Eksponen

 


Prolog

Aku berdiri di depan gerbang sekolah, menatap tulisan besar di atasnya yang seakan mengejek keberadaanku. Dua tahun. Dua tahun aku tidak menginjakkan kaki di sini. Rasanya aneh, seperti masuk ke dunia yang pernah kukenal tapi sekarang terasa asing.

Dua tahun lalu, tubuhku masih normal, mungkin sedikit berisi, tapi tidak sampai segede sekarang. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan kaus seragamku yang ketat menekan perut. Pundakku terasa berat, bukan hanya karena tas yang penuh buku, tapi juga beban yang tak terlihat—tatapan mereka, bisikan mereka, atau mungkin tawa yang belum terdengar tapi sudah terbayang jelas di kepalaku.

Dari luar, sekolah ini tidak banyak berubah. Cat tembok yang sama, pagar besi yang sama, bahkan tukang bakso yang berdiri di dekat pintu masuk masih tampak seperti dua tahun lalu. Tapi di dalamnya? Pasti sudah berbeda. Teman-teman lama, guru-guru, aturan-aturan baru—dan aku, yang bukan lagi Habib yang dulu.

Aku tahu apa yang akan terjadi. Tatapan heran, cibiran kecil, mungkin satu dua orang yang masih mau menyapaku. Tapi aku tak bisa mundur lagi. Aku sudah di sini. Ibuku bahkan melepas kepergianku pagi ini dengan penuh harapan, seolah ini adalah awal dari sesuatu yang besar. Aku hanya bisa berharap kalau hari pertama ini tidak berakhir dengan sesuatu yang lebih buruk.

Kutelan ludah, menggenggam tali tas erat-erat, dan melangkah masuk. Selamat datang kembali, Habib.

***

Aku baru saja melewati koridor menuju kelasku ketika sebuah suara familiar memanggil namaku.

"Habib? Serius ini lo?"

Aku menoleh dan melihat seorang anak dengan postur lebih tinggi dari yang kuingat, wajahnya masih sama, hanya sedikit lebih dewasa. Hadi. Teman lamaku sebelum pandemi meluluhlantakkan semuanya.

Dia berjalan mendekat, menatapku dari atas ke bawah dengan ekspresi sulit ditebak. "Gila, lo berubah banget. Gue hampir nggak ngenalin."

Aku hanya tersenyum kaku. "Iya, heh… lama nggak ketemu."

Dia diam sejenak sebelum menepuk bahuku keras. "Santai aja, bro. Gimana hidup lo selama ini? Masih suka ngegame?"

Aku ragu sejenak. "Iya, masih."

"Wah, pas banget! Anak-anak sekarang banyak yang main di warnet dekat sekolah. Nanti ikut gue, ya?"

Aku mengangguk pelan. Setidaknya, ada satu orang yang masih menerimaku seperti dulu. Tapi entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari caranya bicara. Sesuatu yang belum bisa kupastikan.












































Bab 1

"Habib!"

Suara lantang itu menggema di seluruh kelas. Aku baru saja duduk dan berharap bisa menghabiskan waktu pagi ini dengan diam-diam, tapi tampaknya harapan itu langsung pupus.

"Kamu tahu ini hari keberapa sejak masuk sekolah?" suara Pak Darman, guru matematika, terdengar tajam.

Aku menunduk, pura-pura melihat sesuatu di dalam tasku. "Ehm… seminggu lebih, Pak."

"Dan selama itu, kamu belum mengumpulkan satu pun tugas yang saya berikan!"

Kelas mulai berbisik. Aku bisa merasakan tatapan mereka menusuk dari berbagai arah. Sebagian tampak geli, sebagian lagi mungkin kasihan—atau malah senang melihatku dalam situasi ini.

"Saya sudah memberi kesempatan, Habib. Tapi kalau begini terus, saya terpaksa memberi tindakan tegas. Kamu pikir sekolah ini tempat bersantai?"

Aku diam. Aku tahu ini salahku. Aku memang nggak pernah mengerjakan tugas. Setelah pulang sekolah, aku hanya main game, nonton anime, dan tidur. Rasanya malas sekali menyentuh buku pelajaran.

"Besok sebelum jam pertama, semua tugas harus sudah ada di meja saya. Kalau tidak, siap-siap menghadapi konsekuensinya!" Pak Darman menatapku tajam, lalu berbalik ke papan tulis.

Aku menarik napas panjang. Ini baru awal hari, dan aku sudah kena damprat. Bagus, Habib. Ini yang namanya comeback yang buruk.

Jam pelajaran pun berganti, tapi aku masih merasakan sisa tatapan teman-teman sekelas yang sesekali mencuri pandang ke arahku. Rasa malu itu belum hilang sepenuhnya.

Saat bel pergantian jam berbunyi, Pak Darman berdiri dari kursinya dan menatapku tajam. "Habib, keluar dari kelas sekarang. Ini hukuman buat kamu. Berdiri di depan pintu sampai pelajaran selesai."

Aku menghela napas. Aku tahu protes pun percuma. Dengan langkah berat, aku bangkit dari kursiku dan berjalan keluar, melewati tatapan puas beberapa teman sekelas. Pintu kelas tertutup di belakangku, dan kini aku berdiri sendirian di lorong.

Dingin. Sepi. Aku menatap ke depan tanpa ekspresi, mencoba mengabaikan rasa malu yang makin menumpuk di dalam dada. Entah bagaimana, aku merasa ini baru permulaan dari hari-hari buruk yang menunggu di sekolah ini.

Pelajaran berikutnya dimulai, dan kejadian yang sama terulang. Kali ini guru bahasa Indonesia yang menghajarku dengan teguran keras. Sekali lagi, aku berdiri di luar kelas, merasakan waktu berjalan begitu lambat.

Ketika bel pulang berbunyi, aku merasa seperti baru saja keluar dari neraka. Aku berjalan ke gerbang sekolah dengan langkah malas. Seharusnya aku dijemput, tapi entah kenapa orang tuaku belum juga datang. Aku mengeluarkan ponsel dari saku, menatap layar dengan malas. Tidak ada pesan.

Aku menunggu cukup lama di depan sekolah, duduk di trotoar dengan tangan menopang dagu. Matahari semakin terik, dan aku mulai merasa gelisah. Aku melihat anak-anak lain sudah pulang satu per satu, sebagian dijemput orang tua mereka, sebagian naik angkot atau berjalan kaki.

Akhirnya, aku menyerah. Aku berdiri dan berjalan menuju pangkalan ojek. Dengan uang saku yang tersisa, aku menyetop seorang tukang ojek dan menyebutkan alamat rumahku.

Di perjalanan, aku memandangi jalanan dengan perasaan kosong. Di rumah, hanya ada adikku yang masih SD, sementara ibuku sibuk mengajar. Ayahku? Dia seorang pekerja lepas, kadang ada di rumah, kadang pergi berhari-hari tanpa kepastian.

Saat motor berhenti di depan rumah, aku turun dengan malas, membayar ongkosnya, lalu masuk ke dalam. Aku hanya ingin ke kamar, menutup pintu, dan melupakan hari sialan ini.















Bab 2

Aku tidak tahu bagaimana aku bisa terpilih sebagai Ketua Bidang Agama di OSIS. Yang jelas, aku tidak pernah benar-benar menjalankan tugas itu. Sejak nama aku diumumkan dalam daftar pengurus OSIS, aku tidak pernah datang rapat, tidak pernah ikut kegiatan, bahkan teman-teman OSIS pun tidak ada yang tahu wajah ketua bidang agama mereka.

Aku hanya ingat waktu itu, pemilihan dilakukan lewat voting, dan mungkin ada beberapa orang iseng yang memilih namaku. Atau mungkin, guru pembina OSIS punya pemikiran aneh ketika menaruh namaku di posisi ini. Entahlah. Yang jelas, aku tak peduli.

Tapi satu hal yang pasti: ketidakpedulianku akhirnya berujung pada sebuah insiden memalukan.

Pernah suatu hari, aku bertemu dengan Pak Hasyim, pembina OSIS, di lorong sekolah. Aku berusaha menghindar, tapi entah bagaimana, dia melihatku lebih dulu.

"Habib!"

Aku refleks berhenti, lalu menoleh dengan canggung. "Eh… Pak Hasyim…"

Beliau menatapku lama, lalu menyilangkan tangan di dada. "Kamu masih niat di OSIS nggak? Saya nggak pernah lihat kamu datang rapat."

Otakku langsung bekerja mencari alasan. Aku tidak bisa bilang kalau aku memang malas. Jadi aku mulai mengarang.

"Eh, anu, Pak… Saya ini lebih ke tipe orang yang bekerja di balik layar," ujarku dengan wajah serius. "Saya mengawasi dari jauh, memberikan masukan-masukan strategis…"

Pak Hasyim mengernyit. "Jadi strategi kamu itu… menghilang?"

Aku terkekeh kecil. "Ehehe… bukan gitu, Pak. Saya lebih ke orang yang bekerja dalam diam. Biar hasil yang bicara."

Pak Hasyim menghela napas panjang. "Ya udah. Sertijab OSIS minggu depan. Jangan sampai nggak datang."

Aku mengangguk cepat. Dalam hati, aku sudah berniat untuk pura-pura sakit di hari itu. Sayangnya, semesta tidak membiarkan rencana itu berjalan mulus.

Sebelum insiden sertijab, ada satu acara yang seharusnya aku hadiri sebagai panitia, yaitu acara Gebyar—lomba bagi siswa SD yang ingin masuk ke sekolah ini. Sejujurnya, aku sama sekali tidak ingin datang. Hari itu hujan, sekolah diliburkan, dan aku tenggelam dalam dunia anime dan game. Saat aku melihat jam, sudah pukul 12 siang.

"Astaga!" Aku terlonjak dari kasur. Acara sudah dimulai sejak pagi, dan aku harusnya hadir dari tadi.

Aku buru-buru mengenakan seragam OSIS, yang tentu saja ukurannya mulai sempit. Butuh perjuangan luar biasa untuk memasukkan kancing ke lubangnya. Setelah hampir lima menit bergulat dengan seragam, akhirnya aku berhasil.

Saat aku naik ke motor, aku bisa merasakan joknya amblas. Aku berusaha mengabaikan perasaan itu dan melaju ke sekolah. Begitu sampai, aku langsung mencari ruang panitia.

Di sana, aku melihat seorang temanku, Iqbal, yang juga jadi pengawas lomba.

"Bro, tutup mulut ya? Gue telat datang, tapi lo nggak usah kasih tahu ketua," bisikku.

Iqbal mengangkat alis. "Bayar dulu."

Aku menghela napas, lalu mengeluarkan recehan yang cukup untuk membayar satu jam bilangan warnet. "Nih, biling warnet satu jam."

Iqbal tertawa kecil. "Oke, deal."

Dengan kesepakatan itu, aku bisa masuk ke ruangan tanpa dicurigai. Aku duduk di pojokan sambil pura-pura sibuk, berharap acara cepat selesai. Tapi baru duduk lima menit, aku ditunjuk untuk membacakan doa pembuka acara. Aku berjalan ke depan dengan gugup, mengucapkan doa dengan terbata-bata, dan menyadari sebagian besar orang yang hadir di ruangan itu tidak benar-benar mendengarkan.

***

Hari sertijab tiba. Aku sudah berusaha menghindari acara itu, tapi ibuku tidak membolehkan aku libur. Dengan berat hati, aku pun hadir di aula sekolah yang dipenuhi oleh para pengurus OSIS dan guru.

Begitu namaku dipanggil, aku berjalan ke depan panggung. Aku bisa merasakan tatapan para pengurus lain yang tampak kebingungan melihatku. Mungkin mereka baru sadar kalau selama ini ketua bidang agama mereka adalah orang asing bagi mereka.

Saat aku hendak naik ke panggung, bencana itu terjadi.

Aku terpeleset.

Dan sayangnya, di bawahku ada Pak Hasyim.

Aku jatuh tepat di atasnya. Suasana aula langsung hening. Beberapa orang menahan napas, beberapa lainnya tercekat melihat kejadian itu.

Pak Hasyim mengerang pelan. "Habib… bisa tolong… geser dikit…? Saya… nggak bisa napas."

Aku buru-buru berusaha bangkit, tapi justru membuat situasi semakin kacau. Lantai yang licin membuatku terpeleset lagi, dan kali ini, aku jatuh dengan posisi yang lebih buruk—menimpa beliau sepenuhnya.

Aula meledak dalam gelak tawa. Aku ingin menghilang dari dunia ini.

Setelah insiden memalukan itu, aku merasa hidupku di sekolah semakin suram. Tapi aku masih punya satu teman baru yang, entah bagaimana, bisa membuat hariku sedikit lebih menarik.

Namanya Rehan. Dia anak yang sangat pendiam. Bahkan, teman-teman sekelas kami tidak ada yang tahu bagaimana suara aslinya. Dia selalu duduk di pojokan, dengan wajah tanpa ekspresi yang… jujur saja, agak sulit dideskripsikan.

Hidung, dahi, dan mulutnya seolah berada dalam satu garis lurus, membuat wajahnya terlihat… unik. Aku tidak tahu apakah harus merasa kasihan atau kagum melihatnya.

Suatu hari, aku mencoba berbicara dengannya.

"Rehan, lo bisa ngomong nggak sih?"

Dia menoleh sebentar, lalu kembali menatap bukunya.

Aku menghela napas. "Kalau lo bisa denger gue, angguk."

Dia mengangguk pelan.

Aku tersenyum kecil. "Oke, progress. Sekarang, lo bisa jawab pertanyaan gue nggak? Minimal pake isyarat."

Dia mengangkat bahu.

Aku mengangguk paham. "Baiklah, gue anggap itu sebagai 'terserah'."

Meski tidak banyak bicara, aku mulai terbiasa dengan kehadiran Rehan. Kadang, kami duduk bersama di kantin, meski dia lebih banyak diam dan aku lebih banyak mengoceh. Tapi setidaknya, dia tidak menghakimi atau menertawakan aku seperti orang lain.

***

Waktu berlalu, dan akhirnya aku naik ke kelas 9. Nilai-nilaiku? Seadanya. Aku tahu sebagian besar guruku membantu mendongkrak nilaiku agar aku bisa naik kelas. Tapi secara pribadi, aku tidak merasa ada perubahan dalam diriku.

Hari terakhir di kelas 8, aku duduk di bangkuku, melihat ke luar jendela dengan perasaan kosong. Aku masih Habib yang sama seperti di awal masuk sekolah. Masih malas, masih tidak punya motivasi, masih mencari alasan untuk tidak berubah.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di kelas 9. Tapi satu hal yang pasti, kalau aku tetap seperti ini… masa depanku tidak akan lebih baik dari sekarang.


























Bab 3

Di kelas 9, kehidupanku di sekolah tidak banyak berubah. Aku masih Habib yang sama—pemalas, pengangguk ulung, dan profesional dalam seni menghindari tanggung jawab. Tapi kalau ada satu hal yang membuatku tidak menjadi bulan-bulanan para tukang bully, itu semua karena Hadi.

Hadi adalah ketua geng kecil di sekolah, tapi disegani. Badannya tinggi, tegap, dan berwibawa. Orang-orang segan padanya, bukan hanya karena fisiknya, tapi juga karena caranya berbicara yang selalu terdengar serius dan meyakinkan. Aku, meskipun tidak secara resmi disebut anggota gengnya, tetap berada di lingkarannya. Dan itu sudah cukup untuk membuatku aman.

Yang unik dari hubungan kami, Hadi membutuhkan aku sebagai teman cerita. Setiap kali dia punya masalah, dia akan mengajak aku ke kantin atau sudut sekolah yang sepi, lalu mulai curhat panjang lebar. Aku? Aku hanya mengangguk-angguk, sesekali menggumamkan, "Serius?" atau "Wah, parah sih." Aku sebenarnya tidak pernah benar-benar mendengarkan. Tapi selama aku tetap mengangguk dan pura-pura peduli, aku tahu posisiku aman.

"Bib, lo tau nggak sih, si Rendi kemarin nabrak tiang listrik gara-gara main HP sambil jalan?" kata Hadi suatu siang, sambil menyuap nasi goreng di kantin.

Aku mengangguk. "Parah sih."

"Lah, gue belum selesai cerita."

"Oh, iya, lanjut."

"Jadi pas dia jatuh, HP-nya malah direbut sama anak kelas 7. Kocak banget, kan?"

Aku tertawa sekadarnya. Hadi terkekeh puas, lalu melanjutkan makannya. Hubungan kami seperti ini: dia butuh pendengar, aku butuh perlindungan. Saling menguntungkan.

Selain aku, ada beberapa orang lain di lingkaran Hadi. Isan, seorang juara KSM yang sering menang lomba sains tapi punya selera humor ala bapak-bapak. Fajri, anak karate yang lebih sering latihan jurus daripada belajar. Dan Halim, anak warnet yang sekaligus penggemar hip-hop garis keras. Mereka ini yang sering nongkrong bareng di sekolah maupun di luar sekolah.

Warnet adalah tempat keduaku setelah rumah. Kami menyebut tongkrongan di sana sebagai "Tongkrongan Penghuni Surga," meskipun isinya lebih mirip para dajjal kecil. Di sana, kami menghabiskan waktu dengan main game online, nonton video random, dan ngobrol nggak jelas.

Halim sering jadi orang yang paling ribut di warnet.

"Bro, bro! Gue baru dapet skin baru di game!" serunya sambil menunjuk layar monitornya.

Aku mendelik malas. "Duit dari mana?"

"Nyolong duit beli sayur di rumah, sih dikit doang." Halim terkekeh.

Aku menghela napas. Aku tidak lebih baik dari dia. Beberapa kali aku juga mencuri uang orang tuaku untuk main warnet. Kadang hanya dua ribu, kadang lima ribu, kadang… lebih. Aku tahu itu salah, tapi entah kenapa jari-jariku tetap bergerak mengambil lembaran uang saat tidak ada yang melihat.

Ada satu rahasia kecil yang aku simpan baik-baik: aku tidak pernah meninggalkan sholat. Setidaknya, itulah yang orang lain pikirkan. Setiap magrib, aku akan pergi ke masjid, berpamitan seolah menjadi anak saleh.

Kenyataannya? Aku tidak pernah benar-benar sholat.

Begitu sampai di masjid, aku hanya lewat, lalu langsung menuju rumah sahabat SD-ku, Ado. Kami sudah berteman sejak kecil. Perawakannya 11-12 denganku, 12-nya ada di aku. Obesitas, jerawatan, dan sama-sama pemalas.

"Habib, lo nggak ke masjid?" tanya Ado suatu hari saat aku nyelonong masuk ke rumahnya.

Aku tertawa kecil. "Udah, udah. Gue tadi di shaf paling belakang. Lo nggak liat aja."

Ado mengangguk paham. Kami lalu sibuk ngobrol dan main game di rumahnya sampai azan isya berkumandang.

Meski begitu, aku tetap menjaga citra sebagai anak yang rajin ibadah. Keluargaku percaya aku tidak pernah meninggalkan sholat. Aku pun merasa tidak perlu mengubah kebiasaan ini.

Di sekolah, di warnet, di rumah Ado—hidupku berjalan seperti biasa. Aku masih sulit berkenalan dengan orang baru. Teman-temanku ya itu-itu saja. Dan aku masih Habib yang sama: pemalas, penghindar tanggung jawab, dan ahli dalam bertahan hidup dengan trik-trik kecilku.

Aku tidak tahu sampai kapan bisa terus seperti ini. Tapi untuk saat ini, aku tidak peduli.








Bab 4 

dimulai dengan suasana yang sama seperti sebelumnya, hanya kali ini, ada beberapa perubahan yang bisa dibilang... "mengagumkan."


Semester pertama kelas 9 akhirnya selesai juga. Rasanya seperti kemarin baru saja aku duduk di bangku kelas 8, dan ya, tentu saja—tidak ada yang berubah. Tidak ada. Nggak ada sedikit pun perubahan drastis dalam hidupku. Cuma beberapa hal kecil yang lebih terlihat. Misalnya, ukuran bajuku. Sekarang, ukuran baju yang paling pas buat tubuhku yang "luar biasa" ini adalah 4XL. Sungguh, pencapaian luar biasa.

Aku harus mengakui, pakaian yang begitu besar membuatku merasa seperti gundukan pakaian berjalan. Entah itu tasnya yang seperti pelampung, atau celananya yang seperti terowongan, semuanya terasa luas, dan sangat nyaman. Iya, sangat nyaman. Bisa bayangin nggak sih, duduk dengan baju yang segede itu, rasanya seperti di atas awan.

Juga, soal bobot, aku punya kabar baik. Sekarang aku beratnya 105 kg. Memang, angka ini sedikit lebih banyak dari sebelumnya. Tapi hey, aku merasa itu adalah sesuatu yang harus dibanggakan. Lebih banyak daging, lebih banyak tubuh yang melindungi tulang-tulangku. Pasti banyak yang iri dengan tubuh solid seperti ini. Kalau aku menurunkan berat badan, bisa-bisa ada yang khawatir kalau aku hilang dan jadi tenggelam dalam selimut.

Tapi jangan salah, aku sebenarnya cukup bangga dengan perubahan ini. Kalian tahu kenapa? Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bisa merasakan apa yang disebut “sukses” dalam dunia game. Ya, game, di mana aku bisa menjadi pahlawan tanpa harus keluar dari kamar. Sekarang, peringkatku di game naik. Kalau dulu hanya terjebak di level 10—sekarang? Level 80! Luar biasa, bukan? Aku bisa merasakan betapa dunia virtual ini menghargai aku lebih daripada dunia nyata. Kalau dunia nyata cuma menilai aku dari ukuran bajuku, dunia maya justru melihatku sebagai seorang master—seorang ahli strategi. Mungkin kalau aku mati, dunia game-lah yang akan menangisi kepergianku, bukan dunia ini.

Di sekolah, semuanya berjalan sesuai rencana. Hadi, si ketua geng yang tinggi besar itu, masih menjaga jarak denganku, tapi dengan cara yang sangat terhormat. Kami jarang ngobrol, dan dia tampaknya sudah mulai menyadari bahwa aku adalah teman yang cukup... "berguna." Maksudku, aku tidak pernah mengeluh, dan aku selalu mengangguk-angguk dengan penuh semangat, meskipun sebenarnya otakku sudah berada di dunia lain. Tapi selama aku bisa ikut nongkrong dan tidak dikerjain orang, aku merasa sudah cukup hidup.

Isan, yang jago KSM(kompetisi sais nadrasah), masih melongo setiap kali aku berbicara. Fajri yang anak karate? Dia sering ngajarin aku gerakan yang lebih cocok buat orang lain—maksudku, gerakan untuk orang yang sudah berlatih, bukan orang yang baru belajar angkat tangan. Tapi kami berteman. Dan itu yang penting.

Sedangkan Halim, anak warnet yang setiap kali ngomong, kayaknya ngga pernah capek tentang hip hop, selalu ngajak aku main game bareng. Kami punya tempat favorit: warnet kecil di pojokan yang sering kami sebut "Tongkrongan Penghuni Surga." 

Kenapa "Penghuni Surga"? Jujur, karena kami semua merasa kami sudah ada di level teratas setelah bisa melarikan diri dari rumah. Sambil main game, kami ngobrol tentang hal-hal yang nggak ada kaitannya sama dunia nyata. Entah itu anime, atau masalah teknologi, atau bahkan hip hop—hal-hal yang kalau diomongin di luar sana, orang pasti mikir, "Apa sih yang kalian omongin?"

Pernah suatu malam, aku punya uang cukup buat nge-game, dan aku mencuri sedikit dari uang orang tua untuk itu. Ya, aku tahu itu salah, tapi... siapa yang bisa menahan godaan buat main game seharian? Lebih baik aku mencuri sedikit, daripada cuma duduk di rumah dan merenung soal hidup. Lagipula, mereka nggak pernah tahu, kan?

Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah. Setiap sore, aku tetap pergi ke masjid. Setiap magrib, seperti sudah jadi kebiasaan. Tapi kebiasaan itu—jangan berharap aku datang untuk sholat. Yang datang itu, ya, badan aja. Karena tujuan sebenarnya adalah rumah Ado, sahabat SD-ku yang juga tampaknya tidak tahu apa itu 'berkembang'. Kami berdua punya kebiasaan yang sama: obesitas, jerawatan, dan sama-sama nggak pernah peduli sama apa yang orang lain pikirkan. Cuma, kami berdua tahu cara bersembunyi.

Aku datang ke masjid, semua orang menganggap aku sedang sholat. Padahal, aku cuma duduk di pojokan, lalu kabur ke rumah Ado. Kadang aku berpikir, "Ini kebohongan yang sudah cukup lama, kapan ya kebohongannya ketahuan?" Tapi, ya, sejauh ini—semua baik-baik saja.

Mungkin dalam hidup ini, aku lebih sering mencari alasan untuk bertahan, daripada alasan untuk berubah. Tapi setidaknya... kalau hidup tetap berjalan begini, aku merasa ada sesuatu yang aku kuasai, bahkan jika itu hanya di dunia game dan tongkrongan warnet.

Dan dengan segala sarkasme yang bisa aku kumpulkan, aku menikmati setiap detiknya.

Beberapa guru, meskipun mereka sering mengeluh tentang kehadiranku yang jarang, tampaknya masih menyimpan sedikit harapan. Guru Matematika, Pak Iqbal, sering mengamatiku dengan tatapan penuh misteri. Setiap kali aku gagal menjawab soal, dia hanya menggelengkan kepala, seakan-akan sedang berpikir, "Kenapa sih, Habib, nggak bisa sedikit lebih baik?" Dan meskipun dia tampaknya sangat kecewa, nilai raporku tetap aja pas-pasan, persis seperti biasa.

"Habib," kata Pak Iqbal suatu hari setelah ujian, "Habib tahu kan, kalau Habib bisa lebih dari ini, kan?"

Aku cuma mengangguk sambil memainkan pensil di meja. "Iya, Pak, saya tahu."

"Tapi kenapa Habib nggak melakukan itu?" tanyanya lagi.

"Apa boleh buat, Pak. Mungkin saya lebih berbakat di bidang lain. Game, misalnya." Aku tertawa canggung, berharap dia tidak benar-benar serius menanyakan itu.

Pak Iqbal cuma menghela napas panjang dan kembali menulis nilai di papan tulis, sepertinya dia sudah menyerah. Ya, aku tahu, dia cuma berusaha baik-baik aja. Tapi seperti yang biasa terjadi, nilainya nggak pernah lebih dari 70, meski sudah dibantuin.


Teman-teman di kelas pun masih sama, nggak ada yang berubah. Hadi, Isan, Fajri, Halim—semua masih di tempat yang sama, menjalani hidup dengan cara mereka masing-masing. Halim, yang selalu menyebut dirinya "Penyuka Hip Hop No. 1", masih dengan segala kegiatannya yang berhubungan dengan musik. Dan Isan, yang mungkin cuma hidup untuk jadi juara KSM, tetap jadi pusat perhatian setiap kali ada kompetisi.

Suatu hari, di tengah kebosanan yang melanda, aku melihat brosur pendaftaran masuk MAN (Madrasah Aliyah Negeri) yang dibagikan oleh guru agama. Brosur itu ditaruh di meja guru. Aku melihatnya sekilas, dan langsung merasa tidak tertarik sama sekali.

"Pendaftaran MAN?" aku bertanya sambil melirik brosur itu. "Gue nggak tertarik deh, nggak minat sama sekolah agama."

Halim yang duduk di sebelahku, tiba-tiba menoleh dan melirik brosur itu.

"Loh, kenapa nggak tertarik?" tanya Halim dengan wajah serius. "Sekolah di sana keren loh, ada program-program agama yang bisa bikin hidup lebih terarah. Gue aja pengen masuk sana."

Aku langsung terkekeh. "Yaelah, lo serius? Ngapain masuk sekolah agama kalau lo malah lebih suka nge-rap, dengerin hip hop?"

Halim cuma nyengir. "Lo nggak ngerti, Bro. Kadang, agama bisa jadi tempat untuk menenangkan diri. Apalagi, lo kan anak warnet, nggak mau kan hidup terus-terusan di depan layar?"

Aku hanya menggelengkan kepala. "Ya udah, terserah lo aja. Gue mah mending masuk sekolah biasa. Toh, gue nggak terlalu mikirin agama segala macam."

Kami berdua kembali fokus dengan kegiatan masing-masing. Halim masih melirik brosur itu sesekali, sementara aku kembali tenggelam dalam dunia gameku.

Suatu hari, aku melihat Hadi sedang berbicara serius dengan guru BK, Pak Rahmat. Kebetulan, aku lewat di depan ruangan dan bisa mendengar sedikit percakapan mereka.

"Jadi, Pak, saya sudah memikirkan dengan matang, saya ingin melanjutkan ke SMA Cendekia," kata Hadi, dengan nada yang penuh keyakinan. "Saya sudah menyiapkan segala persyaratannya. Ini salah satu yang terbaik di propinsi."

Aku terkejut mendengar itu. SMA Cendekia adalah sekolah semi-militer yang cukup terkenal di kota, dan menjadi salah satu sekolah teratas di provinsi ini. Sepertinya Hadi benar-benar serius.

Aku merasa penasaran dan mendekat sedikit untuk mendengarkan lebih lanjut. "Tapi lo yakin, Hadi? Itu SMA susah banget, lo tahu kan?" aku bertanya, setengah penasaran dan setengah sinis.

Hadi menatapku dengan serius. "Gue yakin, Habib. Gue udah siap mental. Nggak kayak lo, cuma main game terus."

Aku tersenyum canggung. "Iya, iya, gue cuma main game, kok."

Setelah percakapan itu, aku semakin tahu bahwa Hadi memiliki rencana besar untuk masa depannya. Tapi aku sendiri, ya, nggak begitu tertarik dengan SMA itu. Gue lebih tertarik sama SMA 2 Bukittinggi—sekolah kota yang paling populer dan tempat kebanyakan temen-temenku bermimpi masuk.

Ayahku, yang punya hubungan dekat dengan kepala sekolah di SMA itu, sering bilang bahwa aku bisa masuk dengan mudah. Mungkin itu alasan kenapa aku merasa optimis meskipun nilai-nilainya pas-pasan. Tidak ada yang lebih meyakinkan selain punya koneksi, kan?

Suatu sore, ketika aku duduk di ruang tamu, ayahku tiba-tiba berbicara sambil membaca surat yang datang dari SMA 2 Bukittinggi.

"Habib, jangan khawatir soal sekolah nanti. Kepala sekolah di SMA 2 sudah sepakat untuk bantu kamu. Masuk sana pasti gampang. Kamu tinggal fokus aja di ujian," kata ayah dengan nada santai, sambil mengangkat surat tersebut.

Aku merasa sedikit lega. "Beneran, Yah? Jadi Habib nggak perlu terlalu mikirin ujian atau nilai-nilai gHabib yang masih pas-pasan?"

Ayah tersenyum. "Pokoknya, kamu bisa masuk sana. Yang penting jaga hubungan baik aja. Semua yang kita kerjakan selama ini, ada hasilnya."

Aku mengangguk, meski sedikit cemas. "Makasih, Yah. Tapi, Habib harus bener-bener lulus, kan? Jangan sampai Habib kecewa."

Ayah meletakkan suratnya dan menepuk bahuku. "Ayah yakin kamu bisa, Habib. Cuma butuh sedikit usaha lebih."

Aku hanya mengangguk, meskipun dalam hati, aku tahu aku lebih berusaha untuk bertahan daripada benar-benar berusaha keras.


Dengan keyakinan yang datang dari koneksi ayahku, aku merasa hidupku akan lebih mudah ke depannya. Tapi apakah itu berarti aku benar-benar siap untuk menghadapi SMA 2 Bukittinggi? Sepertinya, aku masih punya banyak hal yang harus dipikirkan. Tapi, hey, setidaknya aku punya koneksi, dan itu sudah cukup untuk membuatku merasa sedikit lebih aman.




Bab 5: Lamunan yang Menghantui

Suatu hari, Habib duduk sendirian di pojok kelas, pandangannya kosong menatap ke luar jendela. Langit mendung, seolah ikut merasakan kehampaan yang menyelimuti pikirannya. Hari itu, seperti biasa, tak ada yang istimewa. Ujian di depan mata, teman-teman yang masih begitu saja, dan rasa malas yang tak kunjung hilang.

Habib melamun. Tidak ada yang aneh, sebenarnya. Melamun adalah cara termudah baginya untuk menghindari kenyataan. Kenyataan bahwa hidupnya masih stagnan, tak berubah dari hari pertama tatap muka.

"SMA 2 Bukittinggi... Ah, entah kenapa gue ngerasa bakal lulus di sana," gumamnya pelan. "Padahal nilai gue masih seperti ini. Mungkin cuma karena... karena ayah kenal kepala sekolahnya. Kenal dekat, katanya."

Tapi, di dalam hatinya, dia tahu—seperti yang selalu dia rasakan—semua itu cuma harapan kosong. Ayahnya memang dekat dengan kepala sekolah SMA 2 Bukittinggi, dan dia percaya bahwa dengan sedikit ‘bantuan’ dari ayah, dia bisa diterima. Tapi... apakah dia benar-benar ingin itu? Sebuah tempat yang dia tak pernah peduli. Sebuah sekolah dengan harapan yang tak pernah ia punya.

Tiba-tiba, suara guru matematika yang sedang menjelaskan di depan kelas membuat Habib kembali tersadar dari lamunannya. Dia menoleh, melirik papan tulis. Angka-angka itu melayang di kepalanya, tidak masuk, tidak ada arti. Hanya seperti omongan kosong yang tidak pernah punya tujuan.

Setelah beberapa menit, kelas berakhir dan Habib kembali ke tempat duduknya. Teman-teman sekelas sudah mulai berkelompok, berbicara tentang tugas, ujian, atau apapun yang sedang ramai diomongkan di kalangan remaja.

Namun, bagi Habib, semua itu tetap terasa jauh. Apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rencanakan untuk masa depan mereka—baginya itu seperti cerita orang lain. Kadang dia merasa seperti penonton di kehidupannya sendiri, selalu ada, tapi tak pernah benar-benar ikut serta.

Langkahnya berat saat keluar kelas. Suara keramaian di lorong sekolah hanya membuatnya merasa semakin kecil. Dia melihat Hadi, teman dekat sekaligus ketua geng kecil mereka, sedang berdiri di dekat pintu kelas.

"Kau ngapain, Habib?" Hadi bertanya, tampak serius. "Mau ikut rapat OSIS?"

Habib hanya mengangkat bahu. "Gak usah lah, gue udah males." jawabnya dengan santai, meskipun dalam hati dia tahu Hadi mengharapkan sesuatu darinya.

Hadi mengernyitkan dahi. "Kamu gak mau ngelakuin apa-apa, Habib?" Tanya Hadi, dengan nada sedikit kecewa. "Kamu sadar gak sih, kamu bisa jadi lebih dari ini kalau mau?"

Habib mendengus. "Gue udah nyaman begini kok. Lagi pula, kalau pun gue ngelakuin sesuatu, gak bakal berubah apa-apa."

"Jangan cuma ngomong doang!" Hadi berkata, lalu menepuk pundaknya. "Lo cuma butuh dorongan, Habib. Lo terlalu menutup diri."

Habib hanya diam, tidak bisa menjawab. Sebagian dari dirinya ingin menerima kata-kata Hadi, namun di sisi lain, dia juga takut—takut kalau dia benar-benar mencoba dan gagal. Takut kalau dia terlalu berharap dan kemudian jatuh.

Setelah pulang sekolah, Habib pergi ke warung, membeli camilan, dan langsung menuju warnet. Ini adalah tempat yang selalu memberikan rasa aman, meskipun di sana ia tidak pernah benar-benar merasa diterima. Namun, setidaknya, di warnet, semua orang sibuk dengan dunianya sendiri, dan tidak ada yang mengharapkannya untuk berubah.

Ketika Habib masuk ke dalam warnet, Halim sedang duduk di depan komputer, dengan earphone besar menutupi telinganya. Musik hip hop terdengar keras dari sana.

"Yo, Halim, ngapain?" tanya Habib sambil melangkah menuju komputer kosong yang biasa dia pakai.

Halim tidak langsung menjawab. Dia hanya mengangkat tangan, memberi salam. Lalu dengan santai dia melanjutkan permainannya. Habib duduk, membuka game kesukaannya, dan mulai bermain.

Tongkrongan warnet mereka, yang dinamakan "Tongkrongan Penghuni Surga", memang tidak pernah jadi tempat yang tepat untuk membicarakan hal-hal besar. Mereka semua hanya berbicara tentang game, atau terkadang bercanda tentang hal-hal tak penting. Ada Fajri yang anak karate, Isan yang juara KSM, dan Halim yang sepertinya tidak peduli dengan apa pun, selain game dan hip hop.

Tapi, di sinilah Habib merasa dirinya bisa menjadi siapa saja—tanpa beban, tanpa harapan besar. Tanpa harus berpura-pura jadi orang lain. Di sini, dia hanya butuh duduk dan bermain.

Namun, dalam hati, ada satu rahasia kecil yang tidak pernah bisa Habib tinggalkan. Setiap magrib, dia akan pergi ke masjid—tapi bukan untuk sholat, seperti yang orang-orang pikirkan. Dia pergi hanya untuk bertemu Ado, sahabat SD-nya yang kini tinggal tidak jauh dari masjid. Mereka sering bertemu di sana setelah sholat, meskipun Habib tidak pernah benar-benar melakukan ibadah itu.

"Ado!" Habib menyapa ketika Ado membuka pintu rumahnya, menyembunyikan senyum puas. "Gue bawa camilan lagi, lo mau?"

Ado tertawa. "Lo emang, ya, selalu aja bawa camilan. Kalo nggak makan, lo gak bisa hidup, ya?"

"Ya gitu deh," jawab Habib sambil duduk. "Eh, gue gak ngerti deh, kenapa semua orang kira gue rajin sholat."

Ado menatapnya dengan mata tajam. "Lo gak merasa aneh gitu? Kenapa gak mulai coba benerin? Bukannya lo udah tua?"

Habib cuma cengir. "Gue suka begini, kok. Asal orang nggak tau."

Ado menggelengkan kepala, sedikit kecewa. "Lo nggak bakal bahagia kalau kayak gini terus, Bro."

Habib diam. Terkadang dia berpikir, mungkin Ado benar. Tapi, saat itu, dia tidak siap untuk berubah. Dia lebih suka tetap jadi dirinya yang sekarang. Itu yang dia tahu. Itu yang dia nyaman.

Begitu pulang, Habib merenung lagi di kamarnya. Tangannya menekan kontroler game, tapi pikirannya kosong. Masa depan. Perubahan. Harapan. Semua itu terasa sangat jauh. Dia tahu, mungkin suatu saat, dia akan dipaksa untuk menghadapi kenyataan.

Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin tetap berpegang pada apa yang ada di depannya. Dan itu, selama ini, adalah dunia yang lebih nyaman. Dunia yang tidak menuntutnya untuk jadi lebih baik.

Habib terbangun dari lamunannya, matanya terbuka lebar. Sebentar... dia merasa ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mengusik. Sesuatu yang mendesak di dalam dirinya. Perubahan. Perubahan itu, meskipun hanya sebuah bayangan tipis, mulai muncul dalam pikirannya.

"Gue harus berubah," bisiknya pelan. "Kalau enggak, gue bakal terus kayak gini aja. Gak ada yang berubah."

Memang, perubahannya terasa seolah sebuah mimpi, dan mimpi itu sering kali terasa lebih mudah daripada kenyataan. Setiap malam, Habib menutup mata dan membayangkan dirinya menjadi seseorang yang lebih baik, lebih bermanfaat, lebih sukses. "Gue bisa jadi lebih baik," katanya dalam hati. "Gue bisa buat orang terkejut. Gue bisa keluar dari zona nyaman ini."

Tapi, seperti biasa, angan-angannya tidak pernah berhasil diwujudkan. Setiap kali ia berusaha bangun lebih pagi, ia kembali terjebak dalam tempat tidur, menyalahkan alarm yang terlalu keras, atau alasan-alasan kecil lainnya. Setiap kali ia berjanji untuk belajar lebih keras, game dan warnet selalu menjadi godaan yang lebih kuat. Bahkan ketika ia coba untuk mendengarkan nasihat Hadi atau Ado, ia hanya bisa mengangguk tanpa benar-benar memperhatikan.

Ujian di depan mata. Semua orang mengatakan ujian ini adalah kesempatan terakhir, kesempatan untuk membuat sebuah kesan mendalam sebelum ia lulus. Kesan yang bisa membuktikan bahwa Habib bukanlah orang yang hanya duduk diam dan menunggu waktu berlalu. Ia ingin menunjukkan bahwa dia bisa, bahwa dia bisa melawan rasa malasnya dan mencapai sesuatu.

Tapi kenyataannya jauh berbeda.

Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Habib berusaha keras untuk fokus belajar, tapi setiap kali ia membuka buku, pikirannya justru melayang ke mana-mana. Game yang menunggu di warnet, pertemuan dengan Halim yang selalu seru, dan tentunya, makanan enak yang selalu jadi pelarian.

Pada suatu sore yang panas, saat ia berjalan pulang dari sekolah, Habib berhenti sejenak di depan papan pengumuman yang ditempelkan di pintu gerbang. Di sana ada pengumuman hasil ujian, dan habib merasa ada sedikit guncangan di dadanya.

"Gue harus dapat nilai bagus, kalau enggak... gue nggak tahu apa yang akan terjadi," gumamnya.

Namun, saat melihat pengumuman itu—hasil ujian semester yang baru keluar—dia menyadari sesuatu yang pahit. "Nilai gue masih sama," kata hatinya. "Gak ada yang berubah."

Angan-angannya untuk menjadi lebih baik, lebih cerdas, lebih berhasil, hanya tersisa sebagai angan-angan belaka. Di dalam hatinya, ada rasa kekecewaan yang membuncah. Tapi yang lebih menyakitkan lagi adalah kenyataan bahwa dia sudah terlalu lama berada di titik ini. Habib yang sama seperti dulu.

  Sebelum ujian terakhir, Habib sempat berpikir keras tentang apa yang bisa dia lakukan untuk menunjukkan perubahan. Ada rencana-rencana yang ia buat, hal-hal yang seharusnya ia coba lakukan. Mungkin sedikit berbicara lebih banyak di kelas, atau bahkan mencoba menulis esai tentang masa depan, tentang cita-cita, atau apapun yang bisa memberikan kesan. Tapi semua itu terasa sia-sia.

Hari ujian terakhir tiba. Habib duduk di bangku sekolah dengan pandangan kosong, tangannya gemetar memegang pensil. Ia melihat sekeliling. Teman-temannya terlihat serius, terlihat lebih siap, lebih fokus. Sementara dia? Dia hanya merasa seperti penonton.

Setelah ujian selesai, Habib hanya berjalan pulang dengan langkah berat. "Gue nggak tahu kenapa gue selalu kayak gini. Udah berusaha, tapi masih aja nggak berubah."

Tiba saatnya—waktu untuk lulus. Kelas sudah selesai, dan siswa-siswi mulai meninggalkan sekolah dengan perasaan campur aduk. Beberapa tertawa, beberapa menangis. Habib? Dia hanya berdiri di sudut ruangan, melihat sekeliling. Suasana terasa sama seperti dulu, bahkan setelah berbulan-bulan penuh dengan ujian, pelajaran, dan harapan kosong yang ia coba bangun.

Ketika pengumuman kelulusan diumumkan, Habib tidak terkejut sama sekali. Ia lulus—meskipun dengan nilai seadanya. Dengan bantuan sedikit dari gurunya yang masih berharap banyak padanya, ia bisa lulus. Tapi, dalam hatinya, ia tahu. Ia masih sama. Masih dengan kebiasaan lama, masih dengan pola pikir yang sama.

"Jadi ini dia," Habib berkata dalam hati, saat dia menerima surat kelulusan. "Ini yang gue dapatkan. Sama aja, nggak ada yang berubah."

Ayahnya, dengan senyum lebar, menepuk pundaknya. "Selamat, Habib," kata ayahnya. "Ayah bangga sama kamu."

Habib tersenyum lelah, namun dalam hati, ia merasa tidak ada yang berubah. "Iya, Pa. Terima kasih," jawabnya, meskipun kata-kata itu terasa kosong. "Tapi... Habib nggak tahu. Habib masih bingung sama diri Habib."

Sebelum beranjak pergi, ayah Habib menatapnya dengan serius. "Habib, kamu bisa lebih dari ini. Jangan pernah merasa bahwa ini adalah akhir dari segalanya."

Habib hanya mengangguk. "Iya, Pa. Gue ngerti."

Namun, saat ia menoleh pergi, ia merasa bahwa kata-kata itu mungkin hanya akan tetap menjadi kata-kata. Dan mungkin, ia sudah terlalu lama terjebak di dalam dunia yang nyaman ini.

Begitulah Habib, tetap sama. Namun, di dalam dirinya, sedikit harapan kecil untuk berubah masih ada. Hanya saja, kadang hidup memang tidak mudah, dan beberapa langkah pertama memang paling sulit untuk diambil.

Akan tetapi, siapa tahu? Mungkin suatu hari nanti, Habib akan menemukan keberanian untuk benar-benar berubah. Tapi hari itu, dia hanya bisa melihat dirinya sendiri, yang masih sama. Dan itu, entah kenapa, terasa seperti kenyataan yang sangat berat.

Habib memang melangkah keluar dari SMP dengan harapan kosong. Tapi apakah itu berarti akhir dari segalanya? Mungkin tidak. Seperti dalam hidup yang penuh dengan pergulatan, langkah pertama untuk berubah—terkadang, baru terasa setelah masa yang sangat panjang.
















Bab 6

  Hari kelulusan akhirnya tiba. Rasanya campur aduk—antara lega dan cemas. Lega karena akhirnya bisa menuntaskan satu fase dalam hidup, tapi cemas karena… apa yang sudah aku capai selama ini? Bukankah aku masih sama seperti saat pertama kali masuk sekolah? Seperti sebuah ritual, semua orang pada sibuk dengan seragam baru, senyum di wajah, dan harapan-harapan yang mengambang di udara. Sementara aku? Hanya diam, menunggu waktunya berlalu.

Tapi, ya, aku tak bisa memungkiri ada sedikit kebanggaan. Meski nilai-ku pas-pasan, meski guru-guru masih harus mendongkrak aku agar bisa lulus, aku tetap lulus. Aku bukan yang terbaik, tapi aku berhasil melewati semuanya tanpa terlalu banyak masalah. Mungkin itu alasan mereka tidak pernah benar-benar menyerah padaku. Beberapa guru masih menaruh harapan besar padaku, entah kenapa. Mungkin mereka melihat potensi yang bahkan aku sendiri tak tahu ada di dalam diri ini.

“Habib, lulus nggak?” tanya Rehan, si pendiam, di saat kami semua sedang menunggu pengumuman hasil kelulusan.

Aku menoleh ke arahnya, memberi senyum tipis. “Ya, lulus lah. Kalau nggak, ngapain gue di sini?”

Rehan mengangguk pelan, tanpa ekspresi seperti biasa. Kadang, aku merasa seperti kita berdua berada dalam dunia yang sama, namun sangat berbeda. Dia mungkin tidak bicara banyak, tapi aku tahu ada hal-hal dalam dirinya yang tak terlihat. Begitu juga denganku. Kami berdua dipenuhi dengan rahasia yang tak akan pernah keluar ke permukaan.

Tiba-tiba, pengumuman kelulusan datang. Semua teman-teman di sekitarku mulai riuh. Ada yang menangis, ada yang tertawa. Aku hanya duduk di bangku, melihat layar pengumuman dengan mata kosong. Nama-nama mulai berbaris, dan saat akhirnya melihat namaku terdaftar di sana, aku menarik napas panjang. "Lulus."

“Selamat, Habib!” teriak Hadi yang muncul entah dari mana, sambil memukul bahuku. Hadi, yang selama ini selalu punya pengaruh besar dalam hidupku, tetap ada di sisi-sisi yang gelap dan terang dalam kehidupanku. Semua teman-teman di gengnya—Isan si juara KSM, Fajri anak karate, Halim yang betah di warnet dan suka hip hop—juga terlihat ikut merayakan kelulusan kami.

Aku hanya mengangguk, berusaha terlihat santai. “Ya, ya. Terima kasih.”

Namun, hatiku masih penuh dengan pertanyaan. Apa sebenarnya yang aku inginkan dari hidup ini? Kenapa selama ini aku hanya mengikuti aliran tanpa pernah benar-benar menetapkan tujuan? Apakah ini akhir dari perjalanan, atau justru awal dari sesuatu yang lebih besar?

Setelah pengumuman selesai, aku berjalan ke luar sekolah bersama teman-teman. Kami semua seperti orang-orang yang habis memenangkan pertandingan, namun ada yang janggal. Semua orang terlihat bersemangat tentang masa depan mereka, sedangkan aku masih terjebak di masa lalu. Apa yang sebenarnya akan aku lakukan setelah lulus? Ke mana arah hidupku?

Di tengah keramaian itu, aku melihat ayahku berbicara dengan kepala sekolah. Aku sedikit mendekat, mencoba mendengar percakapan mereka.

"Pak, terima kasih banyak atas bantuannya. Habib memang belum maksimal, tapi kami yakin dia bisa berbuat lebih baik di SMA nanti,” kata ayahku dengan nada penuh harap.

Kepala sekolah tersenyum. “Habib memang memiliki potensi, Pak. Kadang, dia hanya perlu dorongan sedikit untuk keluar dari zona nyamannya.”

Ayahku mengangguk. "Kami berharap bisa melanjutkan hubungan baik ini, agar Habib bisa mendapatkan kesempatan terbaik di SMA 2 nanti."

Aku mendengarkan percakapan itu dengan canggung. Aku tahu ayahku berharap banyak padaku, bahkan lebih dari yang aku bisa bayangkan. Tapi, aku tidak tahu apakah aku bisa memenuhi harapannya. Aku hanya merasa bingung dan tertekan.

Setelah pertemuan itu selesai, aku berjalan mendekati ayah. “Yah, ngomong-ngomong, Habib mau ke warnet dulu. Nanti gue pulang.”

Ayahku menatapku dengan tatapan yang hampir tidak terbaca. “Habib, kamu sudah lulus. Saatnya memikirkan masa depan. Jangan terlalu tenggelam dalam permainan dan dunia maya.”

Aku tersenyum miring. “Iya, Yah.  tahu.”

Aku tidak tahu apakah dia benar-benar memahami apa yang ada dalam pikiranku, atau apakah dia hanya ingin melihat aku berkembang menjadi lebih baik. Tapi, yang jelas, aku belum siap menghadapi dunia di luar sana. Dunia SMA, dunia yang lebih besar dan lebih keras. Aku hanya ingin tetap berada di zona nyaman—warnet, teman-teman, dan hidup yang serba santai.

Namun, di dalam diriku, ada bisikan kecil yang bertanya: Apakah ini benar-benar yang aku inginkan?

Aku hanya bisa menggelengkan kepala, merasa bingung dengan diriku sendiri.

Dan dengan begitu, bab kelulusan ini berakhir. Namun, perjalananku masih jauh dari selesai. Dunia baru menunggu, tapi aku—Habib yang sama—masih bertanya-tanya, apakah aku siap untuk itu.

Hari kelulusan itu seperti film yang diputar ulang—semua orang sibuk merayakan, tersenyum, saling mengabadikan kenangan dengan teman-teman mereka. Mereka semua berbicara tentang masa depan, tentang tujuan, dan tentang segala hal besar yang akan datang. Tapi bukan itu yang ada di pikiranku.

Aku hanya berdiri di sana, terjebak di antara kerumunan, menatap mereka semua dari kejauhan. Semua orang sudah saling berfoto, tertawa bersama, bahkan ada yang berpose mesra dengan pacarnya. Sementara aku? Hanya berdiri diam, merasakan betapa kosongnya momen kelulusan ini untukku. Rasanya, aku seperti transparan—tidak ada yang peduli atau ingin mengingatku. Bahkan teman-teman sekelasku yang selama ini aku kenal baik, mereka sudah bersama teman-teman mereka masing-masing, saling tertawa dan berfoto tanpa mengajak aku.

Aku mencoba mendekat ke beberapa dari mereka, berharap bisa ikut berfoto, namun semua pandangan yang aku terima hanya sepintas, lalu mereka berlalu. Hanya ada satu hal yang ada di pikiranku: Gue benar-benar sendirian, ya?

Tapi ada satu momen yang, entah kenapa, tidak bisa aku lupakan. Di tengah keramaian itu, seorang perempuan bernama Nezia, yang sudah cukup terkenal di sekolah karena kecantikannya dan statusnya yang sudah punya pacar, datang mendekat. Aku hanya memandangnya dengan canggung, berusaha untuk tidak terlihat aneh.

"Habib, lo nggak mau foto bareng?" tanyanya dengan senyum ramah. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

Aku sempat terdiam, mencoba menyadari apakah dia serius. “Hah? Lo serius, Nezia?”

“Iya,” jawabnya sambil tertawa kecil. “Kenapa? Lo nggak mau foto sama gue?”

Tanpa pikir panjang, aku mengangguk. “Iya, iya. Gue mau.”

Aku sadar, seharusnya ini jadi momen bahagia. Tapi entah kenapa, ada rasa aneh di dadaku. Saat dia mengeluarkan ponselnya dan kami berdua berfoto bersama, rasanya seakan dunia berputar lebih pelan. Aku tidak tahu kenapa, tapi saat itu, aku merasa dia melihatku dengan pandangan berbeda. Bukan seperti pandangan biasa yang dia berikan ke teman-temannya yang lain, melainkan pandangan yang sedikit lebih dalam—seperti pandangan kasihan.

Mungkin memang sepele, tapi itu adalah pertama kalinya dalam hidupku seorang cewek meluangkan waktu untuk berfoto denganku. Tanpa alasan lain, tanpa ada tuntutan. Seperti dia merasa iba padaku.

Dan itu—meskipun terasa kecil dan sederhana—seperti pemantik kecil dalam diriku. Rasanya aku tersentuh, tidak tahu kenapa. Tapi sejak saat itu, aku merasa ada secercah api kecil yang mulai membara di dalam hatiku. Sebuah tekad yang tidak besar, tapi cukup untuk menumbuhkan harapan. Sepertinya aku tidak bisa terus begini. Sepertinya aku harus mencoba berubah, meskipun aku belum tahu pasti bagaimana cara memulainya.

Aku menatap foto yang diambil Nezia, merenung sejenak. "Kenapa dia mau foto sama gue ya?" pikirku. Rasanya, itu adalah satu-satunya kenangan kelulusan yang membuatku sedikit lebih ringan.

Memang, itu hanya sepele. Tapi buatku, itu lebih dari sekadar foto. Itu adalah tanda—tanda bahwa mungkin, hanya mungkin, aku tidak sepenuhnya sendirian di dunia ini. Dan mungkin, hanya mungkin, aku bisa mulai berusaha untuk lebih dari apa yang aku pikirkan selama ini.

Aku menarik napas dalam-dalam. Ini baru permulaan, Habib. Kita lihat ke mana semua ini akan membawamu.
























bab 7

Libur panjang datang begitu saja. Setelah kelulusan, semuanya terasa ringan, bahkan udara di luar pun seolah ikut mendukung kemalasan yang sedang kumiliki. Tidak ada lagi tugas sekolah, tidak ada lagi rapat OSIS yang harus aku hadiri, tidak ada ujian, hanya waktu kosong yang menanti untuk diisi dengan kegiatan yang tidak produktif.

Aku hanya duduk di depan layar komputer, memainkan game yang tidak pernah aku hentikan. Ketika aku lelah, aku akan pindah ke tempat tidur, membuka Netflix, menonton anime yang sudah aku tonton berkali-kali, atau sekadar scrolling media sosial tanpa tujuan. Liburan ini terasa seperti jeda panjang dalam hidupku, sebuah kesempatan untuk terhanyut dalam rutinitas lama yang aku tahu tidak akan membawa perubahan apa pun.

Terkadang, aku melirik ke luar jendela kamar, melihat teman-teman yang bermain di lapangan, tapi rasanya malas sekali untuk bergabung. Kenapa harus keluar rumah, kan? Di sini, aku sudah punya semuanya. Ponsel, game, dan layar lebar yang menunggu untuk menampung kekosongan hatiku.

Hari-hari berlalu dengan cepat tanpa ada hal signifikan yang terjadi. Aku tidak peduli dengan waktu, tidak peduli dengan dunia luar. Aku merasa, ya sudahlah, semuanya tetap sama. Aku masih Habib yang dulu. Tidak ada yang berubah, dan rasanya, itu tidak masalah. Bagaimanapun, aku merasa nyaman dengan cara hidupku yang begini. Malas, tapi enak.

Kadang, aku berusaha untuk memberi diri sedikit motivasi. Mungkin mulai besok, gue bakal lebih produktif. Baca buku, keluar rumah, beraktivitas… Tapi kenyataannya, keesokan harinya aku bangun, duduk kembali di depan komputer, dan mengulang rutinitas yang sama.

Aku mengingat satu hal—Nezia. Kenangan tentang foto bareng dia masih terngiang di kepala. Mungkin itu sedikit memberi semangat untuk berubah. Tapi saat aku memikirkannya lebih jauh, semua keinginan itu langsung sirna begitu saja. Ah, nanti aja. Besok lah, mulai berubahnya.

Hari-hari berlalu dan aku tetap terjebak dalam siklus malas ini. Aku bahkan tidak merasa perlu bertemu dengan teman-teman lagi. Toh, mereka juga sibuk dengan hidup mereka masing-masing. Hadi dengan gengnya, Halim dengan warnetnya, Rehan yang tetap pendiam—semuanya tetap sama. Aku tidak merasa kehilangan apa-apa. Bahkan, aku merasa lebih nyaman berada di ruanganku sendiri, tanpa gangguan dari dunia luar.

Suatu hari, Hadi mengirim pesan ke grup geng. Isinya tentang rencana liburan bersama ke pantai, tapi aku langsung malas membacanya. Ada apa sih dengan orang-orang ini? Kenapa mereka ingin selalu berkumpul? Punya pacar saja belum tentu bisa bikin bahagia, apalagi liburan bareng teman-teman seperti ini. Rasanya hanya buang-buang waktu.

Aku membalas pesan itu dengan singkat. "Gue nggak ikut."

Dan itulah jawabanku selama liburan panjang ini. Tidak ada yang menuntut, tidak ada yang memaksakan aku untuk berubah. Semua berjalan seperti biasa—aku dengan rutinitasku, mereka dengan rutinitas mereka.

Satu-satunya yang menonjol dari liburan ini adalah aku semakin menyadari betapa kosongnya hidupku. Tapi anehnya, aku juga tidak peduli. Malah, rasanya itu seperti kenyamanan. Tidak ada tekanan, tidak ada tanggung jawab besar. Semua terasa begitu ringan.

Namun, dalam kesunyian itu, ada perasaan aneh yang perlahan merayap. Aku mulai merasa ada sesuatu yang hilang, walaupun aku tidak tahu apa. Sering kali aku merenung di tengah malam, menatap langit-langit kamar yang gelap, bertanya-tanya dalam hati, Apa yang sebenarnya gue cari?

Tapi jawaban itu tetap tidak datang. Semua yang ada hanyalah rasa puas dengan keadaanku yang stagnan ini. Itu sampai hari dimana libur panjang berakhir dan aku harus kembali ke dunia nyata. Semua yang ada dalam hidupku, dari game sampai rutinitas sehari-hari, terasa seperti sebuah ilusi.

Aku melangkah kembali ke sekolah nanti, dengan perasaan yang masih sama. Belum ada perubahan berarti, hanya kebosanan yang semakin dalam.

Namun, meskipun begitu, aku tahu sesuatu. Aku tahu libur panjang ini hanyalah sebuah jeda—sebuah momen yang akan berlalu begitu saja. Tapi entah kenapa, ada sedikit harapan di dalam diriku yang mulai bertanya, Apakah aku benar-benar ingin terus hidup seperti ini?

***

Minggu itu, cuaca cerah. Biasanya, aku akan lebih memilih tidur sampai siang dan menghabiskan waktu dengan main game atau menonton anime, tapi kali ini berbeda. Ayah dan ibu memutuskan untuk melakukan kegiatan bersih-bersih di rumah. Ibu sudah lama ingin mengatur ulang ruang tamu, sedangkan ayah berencana memotong rumput di halaman yang sudah mulai tinggi.

Aku sedang di luar, membeli sapu di warung dekat rumah. Karena halaman rumah kami cukup luas, sapu lama kami sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Saat aku berjalan kembali dengan sapu baru, aku melihat rumah kami sudah ramai. Ada suara ibu yang terdengar cemas, teriakan kecil dari adik, dan mobil yang terparkir di depan rumah.

Jantungku langsung berdegup kencang. Aku mempercepat langkah dan menuju ke rumah. Begitu aku sampai, aku melihat ayah dibopong oleh beberapa orang tetangga ke dalam mobil. Wajah ibu pucat, matanya tampak basah oleh air mata yang ia tahan.

"Kenapa, Bu? Apa yang terjadi?" tanyaku, suara ku bergetar.

Ibu menoleh padaku, dan aku bisa melihat betapa cemasnya dia. "Ayah… ayah kena mesin potong rumput. Kakinya… patah."

Aku tidak bisa langsung memproses kata-kata ibu. Ayah, yang biasanya kuat dan tangguh, kini terlihat lemah. Kulit wajahnya yang biasanya cerah kini pucat, dan matanya sedikit sayu. Aku melihat kakinya terikat perban dan ada darah yang mulai mengering di sekitar luka.

"Ini semua salahku," ibu berkata dengan suara pecah. "Aku seharusnya lebih berhati-hati."

Adik di sampingku menangis histeris, bingung dan takut melihat ayahnya terbaring tak berdaya. Dalam keadaan cemas seperti itu, aku merasa tidak tahu harus berbuat apa. Tanganku yang biasanya tenang kini gemetar, jantungku berdegup cepat, dan aku merasa ada beban berat yang tiba-tiba menyelimuti dada.

Aku mengamati ayah yang sedang dibopong masuk ke dalam mobil. Perasaan yang muncul sangat berbeda dari apapun yang pernah aku rasakan. Ini bukan hanya rasa takut, tapi juga rasa tak berdaya. Rasa kehilangan, meskipun aku belum benar-benar tahu seberapa berat kondisinya.

Ayah yang selalu kuat dan menjadi tiang penyangga keluarga, kini terbaring lemah. Semua yang ada di rumahku serasa berputar. Aku mengikutinya ke rumah sakit, namun sepanjang perjalanan, otakku tidak berhenti berpikir: bagaimana jika ayah tidak bisa kembali normal? Bagaimana jika semuanya berubah?

***

Di rumah sakit, suasana semakin tegang. Ibu sibuk mengurus administrasi, sementara aku hanya bisa duduk menunggu di luar ruang perawatan. Adik yang masih kecil terus menangis, dan aku hanya bisa menenangkan dengan cara yang sangat kaku—tak ada kata-kata yang bisa menguatkan.

Saat aku duduk sendiri di bangku panjang rumah sakit, pikiranku kacau. Aku mulai mengingat semua hal buruk yang pernah kulakukan: mencuri uang orang tua untuk ke warnet, berbohong tentang sholat, malas-malasan, hidup dalam kebodohan. Aku tidak pernah peduli dengan keluargaku. Aku tidak pernah benar-benar mencoba menjadi anak yang baik. Sekarang, apakah ini caranya Tuhan menghukumku? Apakah ini balasan dari semua kesenangan kosong yang aku lakukan?

Aku menatap tangan sendiri. Berkeringat. Gemetar. Aku ingin menangis, tapi air mata tidak keluar. Aku ingin meminta maaf, tapi kepada siapa? Semua ini sudah terjadi. Aku merasa hina.

Tapi tidak mungkin aku ikut depresi di saat seperti ini.

Aku menoleh ke arah ibu yang duduk di bangku sebelah, memeluk adik yang masih terisak. Matanya terlihat kosong, seolah kelelahan lahir dan batin. Aku menggertakkan gigi. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa diam saja.

"Bu... aku bisa bantu apa?" tanyaku pelan.

Ibu menatapku, awalnya tampak terkejut. Biasanya, aku tak pernah peduli dengan urusan rumah, apalagi dalam situasi seperti ini.

"Habib... tolong jaga adik dulu ya. Ibu harus urus administrasi..." jawabnya lirih.

Aku mengangguk dan menarik adik ke dalam pelukanku. Aku mengusap punggungnya perlahan. Aku tahu aku tidak pandai dalam hal ini, tapi setidaknya aku mencoba.

Sepanjang malam di rumah sakit, aku melakukan apa saja yang bisa kulakukan. Membantu ibu mengambilkan air, membeli makanan, menenangkan adik, dan yang paling sulit—menenangkan diri sendiri.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar menjadi bagian dari keluarga. Aku merasa harus berubah, harus melakukan sesuatu. Aku tak ingin terus-terusan menjadi Habib yang dulu.

Ini bukan hanya tentang ayah yang terluka.

Ini tentang aku.

Aku harus berubah.















Bab 8

Pagi itu terasa lebih berat dari biasanya. Aku duduk di ruang tunggu rumah sakit, menatap kosong ke lantai. Ibu baru saja kembali dari ruang dokter dengan wajah yang makin pucat. Dia menghembuskan napas panjang sebelum berbicara dengan suara bergetar.

"Ayah akan dioperasi besok siang."

Seketika, udara di sekelilingku terasa menekan. Aku menatap ibu, berharap ada kepastian bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ibu hanya diam, menunduk, tangannya mencengkeram kain rok panjangnya. Aku menelan ludah, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Di sebelahku, adikku semakin memeluk lengan ibu, matanya masih merah karena menangis.

Malam itu, aku pulang bersama adik. Kami berbagi tugas: ibu tetap di rumah sakit menjaga ayah, sementara aku dan adikku harus mengurus rumah. Meski rumah terasa kosong tanpa ayah dan ibu, aku tahu kami harus kuat. Lagipula, adikku tak bisa sering bolos karena ujian kenaikan kelas semakin dekat.

Pagi harinya, aku mengantar adikku ke sekolah. Biasanya aku tak terlalu peduli dengan rutinitas seperti ini, tapi hari ini berbeda. Aku menepikan motor di depan gerbang sekolahnya, menoleh ke arahnya yang tampak enggan turun.

"Jangan pikirin Ayah terus, yang penting kamu fokus sekolah dulu," kataku, mencoba menenangkan.

Adikku mengangguk pelan. "Tapi kakak juga hati-hati, ya?"

Aku hanya tersenyum kecil dan mengacak rambutnya sebelum ia akhirnya turun dari motor.

Dari sekolah adik, aku langsung ke rumah sakit. Namun, ibu memintaku untuk menemaninya sebentar ke tempat ia mengajar. Dia harus mengisi absen supaya tetap mendapatkan tunjangan, meskipun sedang dalam kondisi seperti ini.

Aku menunggu di luar sekolah ibu, duduk di atas motor sambil melamun. Segala macam pikiran melintas di kepalaku. Bagaimana jika operasi ayah gagal? Bagaimana jika ini semua terjadi karena aku? Semua dosa yang pernah kulakukan terbayang kembali—mencuri, berbohong, tidak pernah benar-benar salat. Apakah ini balasan dari semuanya?

Aku menggeleng, mencoba mengusir pikiran itu. Tidak, aku tidak boleh larut dalam ketakutan ini. Aku harus tetap tenang. Aku harus membantu ibu.

Setelah ibu selesai, kami langsung kembali ke rumah sakit. Siang itu aku sibuk bolak-balik membeli keperluan ayah: obat, makanan, beberapa perlengkapan kecil yang direkomendasikan perawat. Rasanya tubuhku lelah, tapi aku tahu aku tidak bisa mengeluh.

Jam 12 siang, operasi dimulai.

Aku duduk bersama ibu di ruang tunggu. Ibu menggenggam tanganku erat, tapi aku bisa merasakan genggamannya dingin dan sedikit gemetar.

"Habib... semuanya akan baik-baik saja, kan?" suara ibu lirih, hampir seperti berbisik.

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku ingin berkata "Ya, pasti baik-baik saja," tapi bagaimana jika itu hanya kebohongan? Aku menatap ibu yang mencoba menahan tangis, dan untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar ingin melindungi seseorang dalam hidupku.

"InsyaAllah, Bu..." hanya itu yang bisa keluar dari bibirku.

Detik demi detik terasa begitu lambat. Setiap langkah dokter atau perawat yang keluar masuk ruangan operasi membuat jantungku berdegup lebih kencang. Lima jam menunggu terasa seperti seumur hidup. Ibu beberapa kali menarik napas panjang, sementara aku hanya bisa duduk diam, menatap kosong ke arah pintu operasi.

Akhirnya, pintu itu terbuka. Seorang dokter keluar, wajahnya tampak lelah namun tetap tenang.

"Operasinya berjalan lancar. Ayah kalian sudah keluar dari ruang operasi, tapi masih dalam pengaruh obat bius. Dia butuh waktu untuk sadar sepenuhnya."

Ibu hampir limbung mendengar kabar itu. Aku langsung menopang bahunya, membantu menenangkannya. Aku melihat ayah dibawa keluar dari ruang operasi dengan kaki yang kini terpasang besi pen. Wajahnya pucat, matanya hanya sedikit terbuka sebelum akhirnya tertutup lagi.

"Ayah..." lirih ibu, suaranya penuh emosi.

Aku menggenggam tangan ibu lebih erat. "Ibu harus kuat. Ayah butuh kita."

Aku menatap ayah yang masih setengah sadar di atas ranjang rumah sakit. Aku tahu, ini baru awal dari perjalanan panjang. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar siap untuk berubah, tapi setidaknya aku tahu satu hal.

Aku tidak akan pernah membiarkan keluargaku menghadapi ini sendirian.








Bab 9

Hari-hari setelah operasi ayah terasa begitu panjang. Aku tak ingat kapan terakhir kali merasa benar-benar istirahat. Setiap pagi aku bangun lebih awal dari biasanya, memastikan rumah tetap rapi sebelum bergegas ke rumah sakit. Adikku tetap harus sekolah, jadi aku yang lebih banyak mengurus keperluan ibu dan ayah.

Di hari kedua, saat aku kembali ke rumah sakit setelah mengantar adik, aku mengalami kecelakaan kecil. Motor yang kukendarai tergelincir di jalanan yang berpasir, membuatku terjatuh cukup keras. Lutut dan telapak tanganku lecet, rasanya perih. Aku ingin menangis, tapi aku tahu itu tak akan mengubah apa pun. Aku bangkit, menepuk-nepuk celana yang terkena debu, lalu kembali menyalakan motor dan melanjutkan perjalanan seolah tak terjadi apa-apa.

Sesampainya di rumah sakit, ibu langsung menyadari sesuatu yang berbeda. "Habib, tanganmu kenapa? Kok lecet-lecet begitu?"

"Jatuh dikit tadi, nggak apa-apa kok, Bu," jawabku sambil tersenyum, mencoba meyakinkannya.

Ibu terlihat cemas, tapi tidak berkata banyak. Aku segera mengambil alih tugas membeli keperluan ayah di luar rumah sakit, memastikan segala kebutuhan beliau terpenuhi. Aku bahkan tak punya waktu untuk memikirkan rasa sakit di tubuhku.

Hari-hari berlalu dengan ritme yang hampir sama. Pagi-pagi aku mengantar adik ke sekolah, memastikan ia tetap fokus dengan ujiannya. Lalu, aku bergegas ke rumah sakit, menunggu ibu sebentar sebelum membantunya membeli makanan dan kebutuhan lainnya. Setelah itu, aku kembali ke rumah, mencuci pakaian ayah, membersihkan rumah, lalu kembali lagi ke rumah sakit. Setiap malam aku pulang dengan tubuh yang lelah, tapi aku tahu aku tidak bisa mengeluh. Aku tidak punya pilihan selain terus bertahan.

Pada hari keempat, ayah mulai bisa duduk lebih lama di tempat tidurnya. Ibu terlihat lebih tenang, meskipun kelelahan masih jelas tergambar di wajahnya. Aku mencoba menghiburnya dengan obrolan ringan, walaupun pada akhirnya aku sendiri yang lebih banyak bicara sementara ibu hanya mengangguk pelan.

Hari kelima akhirnya tiba. Aku mendengar kabar dari dokter bahwa ayah sudah bisa menjalani rawat jalan. Kabar itu membuat hatiku lega, meskipun aku tahu perjuangan belum selesai. Aku membantu mengurus administrasi rumah sakit, memastikan semua beres sebelum ayah akhirnya bisa pulang.

Saat kami mendorong kursi roda ayah menuju mobil, aku menatap wajahnya. Dia masih terlihat lemah, tapi ada sedikit senyum di bibirnya. Aku tahu, meski berat, kami telah melewati ini bersama.

Perjalanan pulang terasa panjang. Aku duduk di sebelah ayah di dalam mobil, sesekali melirik ke arah ibu yang menyetir dengan penuh hati-hati. Adikku di belakang, diam tapi terlihat lebih tenang dari sebelumnya.

Aku menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa... berbeda. Aku tidak tahu apakah ini awal dari perubahan yang lebih besar, tapi aku tahu satu hal: aku tidak ingin kembali menjadi diriku yang dulu.

























Bab 10

Aku duduk di depan laptop dengan tangan gemetar. Halaman pendaftaran online SMA Cendekia terpampang di layar. Sekolah semi-militer itu bukan tempat yang pernah terpikirkan olehku, tapi sekarang, setelah semua yang terjadi, aku tahu aku harus mencoba. Aku tidak bisa kembali ke rencana awal masuk SMA 2 Bukittinggi.

Beberapa hari yang lalu, ayah memanggilku ke kamar. Wajahnya serius, meskipun masih terlihat lelah akibat operasi.

"Bib, ada hal yang harus Ayah kasih tahu," katanya pelan. Aku duduk di kursi di samping tempat tidurnya, menunggu ayah melanjutkan.

"Orang dalam yang Ayah hubungi di SMA 2 bilang dia nggak bisa bantu. Sekolahnya sekarang lebih ketat dalam penerimaan, dan… sepertinya kamu harus cari alternatif lain."

Jantungku terasa mencelos. Ini artinya harapan masuk SMA 2 semakin tipis, bahkan hampir tidak ada. Aku menelan ludah, berusaha terlihat santai.

"Ya udah, Yah. Nggak apa-apa kok," kataku, mencoba tersenyum. "Aku coba daftar ke sekolah lain aja."

Ayah menatapku lama, seolah ingin memastikan aku baik-baik saja. "Kamu yakin?"

Aku mengangguk. Dalam hatiku, aku tahu bahwa aku harus mencari jalan lain. Aku tidak ingin membuat ayah dan ibu kecewa lebih dari ini.

Sekarang, aku duduk di depan laptop, mencoba mengambil keputusan besar.

"Yakin mau daftar ke sini, Bib?" tanya ibu, duduk di sampingku. Nada suaranya lembut, tetapi penuh perhatian.

Aku mengangguk pelan. "Nggak ada pilihan lain, Bu. Lagian, kalau nggak coba, mana tahu aku bisa lulus atau nggak."

Aku berusaha terdengar percaya diri, tapi kenyataannya, aku takut. Nilai akademikku pas-pasan. SMA Cendekia terkenal disiplin dan memiliki standar tinggi, baik dalam akademik maupun fisik. Sementara aku… ya, aku masih aku yang dulu. Tidak ada kelebihan yang bisa kubanggakan.

"Jangan pikirkan kegagalan dulu," ibu berkata sambil menepuk bahuku. "Kita coba saja dulu. Kalau memang rezeki kamu di sana, pasti ada jalan."

Aku menghela napas panjang, lalu mulai mengisi formulir. Nama, alamat, asal sekolah, nilai rapor—semua data kutulis dengan jari yang masih sedikit bergetar. Setiap kolom yang kuisi semakin membuatku ragu. Apa aku benar-benar bisa diterima di sini?

Saat tiba di bagian pernyataan kesiapan mengikuti seleksi fisik dan akademik, aku terdiam. Aku tidak bisa berbohong. Aku tidak dalam kondisi fisik yang baik. Aku tidak pernah berolahraga serius, dan tubuhku masih jauh dari kata ideal. Tapi, aku juga tahu kalau aku tidak mencoba, aku akan selamanya berada di titik yang sama.

"Tekan aja tombolnya, Bib," ibu berkata lagi.

Aku menatap layar, jari telunjukku melayang di atas tombol "Submit". Lalu, dengan satu tarikan napas, aku menekannya.

Selesai.

Layar berganti, menunjukkan pesan bahwa pendaftaran telah diterima. Aku menatapnya lama, merasakan berbagai macam emosi bercampur aduk dalam dadaku. Aku baru saja mengambil langkah besar—langkah yang bisa mengubah hidupku.

Ibu tersenyum. "Bangga sama kamu, Bib. Ini awal yang bagus."

Aku tidak yakin apakah ini awal yang bagus atau awal dari mimpi buruk. Tapi satu hal yang pasti, aku sudah memulai sesuatu yang baru.






























Bab 11

Hari-hari libur panjang terasa seperti biasanya. Aku masih bangun siang, masih malas-malasan di rumah, masih belum melakukan sesuatu yang berarti. Rutinitasku tak berubah—bermain game, makan, tidur, dan mengulanginya lagi. Tapi di suatu pagi yang tampak sama seperti sebelumnya, sesuatu terjadi.

Notifikasi email masuk di ponselku.

Aku mengucek mataku yang masih berat, lalu membuka email dengan rasa malas. Namun, saat membaca subjeknya, dadaku tiba-tiba berdebar kencang.

Pengumuman Kelulusan Seleksi Administrasi SMA Cendekia.

Tanganku gemetar. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ini hanya tahap pertama, tapi tetap saja, aku merasa seperti sedang menunggu vonis hidup dan mati.

Kubuka emailnya. Mataku segera mencari satu kata yang paling penting di sana. Dan ketika menemukannya, aku terpaku.

Selamat! Anda telah lolos seleksi administrasi dan berhak mengikuti tahapan seleksi berikutnya.

Aku tidak langsung bereaksi. Aku membaca ulang kalimat itu beberapa kali, memastikan aku tidak salah lihat. Setelah yakin, aku buru-buru berlari ke ruang tamu.

"Bu! Bu! Lulus!" teriakku dengan suara yang bahkan terdengar aneh di telingaku sendiri.

Ibu yang sedang menyapu lantai menghentikan gerakannya. Ia menatapku, lalu tersenyum lebar. "Alhamdulillah, Bib! Ibu tahu kamu bisa."

Aku masih berdiri di sana, tidak tahu harus berkata apa lagi. Ini hanya satu langkah kecil, tapi rasanya seperti sesuatu yang besar. Aku tidak pernah membayangkan benar-benar bisa lolos ke tahap ini.

"Sekarang kamu harus siap untuk tahap berikutnya," kata ibu sambil menepuk bahuku.

Aku menelan ludah. Tahap berikutnya… Aku belum memikirkan itu. Kalau seleksi administrasi hanya soal berkas dan nilai, maka tahap berikutnya pasti akan jauh lebih sulit. Fisik dan akademik. Dua hal yang sama-sama bukan kelebihanku.

"Kamu pasti bisa," ibu berkata lagi, seakan bisa membaca pikiranku. "Kalau sudah sampai di sini, jangan berhenti."

Aku mengangguk, meskipun dalam hati masih penuh keraguan. Tapi satu hal yang pasti—aku sudah mengambil langkah ini, dan aku tidak bisa mundur begitu saja.

Beberapa hari setelahnya, aku mendengar kabar yang cukup mengejutkan.

Hadi, yang selalu terlihat lebih serius dan berniat di SMA Cendekia, ternyata tidak lolos seleksi administrasi. Aku merasa aneh mendengarnya, padahal dia selalu merasa lebih siap dari aku, lebih tahu arah. Tapi kenyataannya, aku yang lulus, sementara dia tidak. Aku tak tahu harus merasa seperti apa. Sedih? Senang? Atau hanya bingung?

Aku menemui Hadi di warung dekat sekolah, tempat kami biasa nongkrong bersama teman-teman geng. Hadi terlihat agak cemas, dengan tatapan kosong yang jarang aku lihat dari wajahnya.

“Hadi, gue denger lo nggak lulus ya?” tanyaku hati-hati.

Hadi mengangguk pelan, wajahnya tampak lebih tua dari usianya. “Iya, gue nggak lulus. Mungkin emang bukan rezeki gue…”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Hadi, yang selalu tampak lebih serius dan berusaha lebih keras, ternyata gagal. Sedangkan aku, yang lebih sering malas-malasan, malah lolos. Aku merasa seperti ada yang tidak adil, tapi juga merasa tidak berhak merayakan ini.

“Kalo gue sih, gue masih belum nyerah. Gue bakal coba lagi tahun depan,” kata Hadi, meskipun suaranya terdengar lelah. "Gue cuma nggak mau ngerasain kalah kayak gini."

Aku terdiam. Hadi selalu punya semangat yang kuat, tetapi kali ini, sepertinya dia kehabisan tenaga.

"Lo tetap bisa, Hadi. Lo lebih dari cukup kok. Cuma… mungkin ini bukan waktunya," jawabku, mencoba memberikan sedikit penghiburan.

Hadi hanya mengangguk, lalu menghela napas panjang. Kami berdua terdiam, masing-masing tenggelam dalam pikirannya.

Dan di saat itu, aku merasa sedikit terasing. Di tengah kegembiraan aku lolos seleksi, aku merasa kehilangan juga. Ini bukan kemenangan yang semestinya aku rayakan. Hadi adalah teman yang selalu lebih baik, lebih serius, lebih siap dari aku. Tapi kenapa hasilnya berbeda?







Bab 12

Sejak pengumuman kelulusan administrasi, hidupku terasa lebih penuh tantangan. Tidak hanya karena aku tahu seleksi berikutnya akan lebih sulit, tapi juga karena ayah memberiku tugas baru. Tugas yang tidak pernah kuanggap akan datang begitu cepat—belajar mengemudi.

"Kamu harus bisa bawa mobil, Bib," kata ayah dengan suara yang tenang meskipun tubuhnya masih terbaring di kursi roda. Kaki yang patah belum sepenuhnya pulih, namun semangatnya tetap utuh. "Kita nggak bisa terus-terusan bergantung sama orang lain buat antar kamu ke seleksi nanti."

Aku menelan ludah. "Tapi Yah, aku belum pernah nyetir."

Ayah hanya tersenyum tipis, meskipun tampak sedikit kesulitan dengan kakinya yang masih dibalut perban. "Justru itu, kamu harus mulai belajar. Gimana kamu mau maju kalau nggak mau keluar dari zona nyaman?"

Aku mengangguk, walau dalam hati sedikit cemas. Aku belum pernah menyetir sebelumnya. Mobil itu besar, mengerikan, dan kalau aku salah sedikit, bisa berbahaya.

Namun, ayah mengajarku dengan sabar. Di hari pertama itu, aku duduk di kursi pengemudi, tangan gemetar memegang setir mobil yang terasa berat. Ibu duduk di sampingku, siap memberikan instruksi.

"Pelan-pelan, injak kopling dulu," kata ibu dengan suara yang lembut namun tegas.

Aku mengikuti instruksi ibu, meskipun jantungku berdegup kencang. Mobil mulai bergerak perlahan, dan aku merasa sedikit lega. Tapi entah kenapa, mobil itu seperti punya kehidupan sendiri. Mobil mati mendadak.

"Astaghfirullah, Bib! Lepasin koplingnya pelan-pelan!" Ibu hampir berteriak, dan aku merasa malu. Aku menatap ke arah ayah yang hanya bisa duduk di kursi roda, memandangku dengan senyum penuh sabar.

Hari-hari berikutnya, aku terus belajar. Setiap kali aku mulai merasa cemas, ayah akan menenangkan. Meskipun kakinya patah, dia tetap memberi semangat. Kadang-kadang, di tengah pelajaran mengemudi, dia akan memberikan saran ringan dengan nada bercanda. "Jangan khawatir, Bib. Mobilnya nggak bakal lari kok kalau kamu pelan-pelan."

Pernah, saat aku hampir menabrak pagar rumah, ayah cuma tertawa kecil, meski hati-hati mengingatkan. "Pelan-pelan aja, yang penting hati-hati. Jangan takut kalau salah."

Itu adalah momen yang mengubah banyak hal dalam diriku. Aku mulai merasa lebih dekat dengan ayah. Kehadirannya, meskipun hanya duduk di kursi roda, memberi rasa aman. Aku mulai belajar melihat dirinya bukan hanya sebagai ayah yang dulu memberi perintah, tapi juga sebagai sahabat yang mengerti ketakutanku.

Di sela-sela belajar mengemudi, aku juga mulai fokus belajar untuk seleksi akademik. Walaupun jujur, itu jauh lebih sulit bagiku. Kepalaku terasa penuh, tetapi hanya menyerap 20% saja dari materi yang kupelajari. Aku membaca, mencatat, dan berusaha menghafal, tapi tetap saja rasanya sulit sekali.

Suatu malam, setelah sesi belajar yang membuatku lelah, ibu melihatku duduk termenung di meja belajar. "Sudah sejauh ini, Bib. Jangan nyerah sekarang," katanya lembut, memberikan semangat yang membuatku merasa sedikit lebih tenang.

Aku mencoba mengangguk, meskipun masih ada rasa cemas yang menggantung di dada. Aku takut gagal, tapi aku juga tahu, kalau aku berhenti berusaha sekarang, aku tidak akan pernah tahu apa yang bisa aku capai.

Seleksi semakin dekat, dan aku harus siap—meskipun kepala ini terasa berat dan penuh. Tapi aku bertekad, setidaknya aku sudah berusaha.



















Bab 13

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba—hari tes akademik di SMA Cendekia. Aku tahu, ini adalah kesempatan yang tidak boleh kuabaikan. Tapi kenyataan yang aku hadapi pagi itu jauh dari yang aku bayangkan.

Aku masih belum bisa mengemudi dengan lancar. Ayah yang seharusnya dalam masa pemulihan, dengan kaki yang masih patah, memaksakan diri untuk mengemudi. Di luar kemampuannya, dia tetap bertekad untuk mengantarku. Aku bisa merasakan betapa beratnya baginya, tetapi dia tetap melakukannya demi aku.

Di dalam mobil, aku duduk dengan perasaan campur aduk. Hati ini ingin sekali rasanya berhenti, berteriak, atau bahkan menangis. Tapi aku hanya bisa menatap ke depan, berusaha keras agar tidak menampakkan rasa takut yang menggerogoti dalam dada.

Kami sampai di sekolah itu, dan saat mobil berhenti, rasa mual langsung menyergap perutku. Aku menundukkan kepala, mencoba menahan rasa yang tidak bisa kuendapkan. Tak lama, makanan yang aku makan tadi pagi keluar dengan paksa—langsung ke mobil sebelah. Aku merasa sangat malu, tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain berusaha tetap tegap berdiri.

Ayah menoleh padaku dengan pandangan khawatir. "Kamu baik-baik aja?" tanyanya dengan suara pelan, tapi ada rasa cemas yang jelas terlihat di matanya.

Aku hanya mengangguk, meskipun aku merasa dunia seakan bergoyang. Kepala ini pusing, perut pun masih mual. Tapi aku harus berjalan, harus mengikuti tes ini, harus buktikan bahwa aku bisa.

Kaki ini terasa seperti sangat berat. Setiap langkah menuju gedung tes seakan berusaha menggoyahkan tekadku. Di dalam hati, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan lulus. Aku akan berusaha.

Namun, tekadku itu tak sebaik kondisiku. Otakku terasa tumpul, seolah tidak mampu mencerna apa yang ada di depanku. Setiap soal terasa seperti sebuah teka-teki yang sulit untuk dijawab. Aku tahu aku bisa lebih baik, tapi tubuhku, pikiranku, semuanya terasa seperti terjebak dalam kabut yang pekat.

Selama tes berlangsung, aku terus berusaha fokus, meskipun isi kepalaku kosong dan penuh dengan kecemasan. Rasanya seperti berlari tanpa tahu ke mana arah langkahku. Aku mencoba tetap percaya diri, tapi dalam hati aku tahu, aku tak sekuat yang aku inginkan.

Setelah tes selesai, aku keluar dengan perasaan hampa. Aku tahu, aku sudah berusaha, tapi entah mengapa ada rasa kecewa yang sulit dijelaskan. Tidak ada rasa kemenangan, hanya kelelahan yang menyelimuti tubuhku.

Sampai di luar, aku berhenti sejenak, menghirup udara dalam-dalam. Aku membiarkan semua perasaan ini keluar, membiarkan takdir yang akan menentukan nasibku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tapi aku merasa sedikit lega karena akhirnya aku telah mencoba.

"Apa pun yang terjadi, kamu sudah berusaha keras, Bib," kata ayah, menyadari kecemasanku.

Aku menoleh padanya, tersenyum lelah. "Terima kasih, Yah."

Kami duduk di mobil kembali, dan aku hanya bisa menunggu—menunggu hasil yang entah akan membawa kebahagiaan atau kekecewaan. Namun, satu hal yang pasti: aku sudah melangkah sejauh ini, dan apapun yang terjadi, aku tidak akan menyesalinya.























Bab 14

Hari-hari setelah tes akademik terasa seperti hari-hari yang penuh dengan ketidakpastian. Waktu berjalan lambat, dan di setiap detik yang berlalu, rasa cemas semakin menghantui. Pengumuman hasil seleksi tahap pertama akan diumumkan hari ini—jam tiga sore. Semua anggota keluargaku gelisah menunggu, dan suasana rumah semakin terasa tegang.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku. Di luar, aku berusaha terlihat tenang, tetapi di dalam, perasaan ini sudah tidak bisa dibendung. Aku berusaha fokus dengan berbagai hal—membantu ibu, merapikan rumah, atau sekadar duduk sambil menunggu—tapi pikiranku selalu kembali ke satu hal: apakah aku lolos?

Ayah duduk di kursi roda, matanya sesekali menatapku dengan tatapan yang penuh harap. Sementara itu, ibu dan adikku, meskipun terlihat lebih tenang, aku tahu bahwa mereka juga tidak bisa menyembunyikan rasa cemas mereka. Mereka juga menunggu dengan penuh harap.

Jam menunjukkan pukul dua siang. Aku duduk di ruang tamu, tangan terasa dingin, dan tubuhku terus bergerak gelisah. Aku melihat adikku, yang sibuk dengan buku pelajarannya, berusaha tidak memperlihatkan perasaan cemasnya. Tapi matanya yang terus melirik ke jam menunjukkan bahwa ia juga tidak bisa menahan kegelisahannya.

Bunda berjalan mondar-mandir di dapur, sesekali berhenti untuk mengecek jam. "Bib, kamu sudah makan?" tanyanya dengan suara yang sedikit cemas.

"Sudah, Bu," jawabku pelan, meski hatiku berdebar kencang.

Tapi, sejujurnya, aku sama sekali tidak merasa lapar. Semua yang ada di sekitar seolah menjadi kabur, dan pikiranku terfokus pada satu hal—pengumuman itu.

Sekitar pukul tiga sore, suara ponsel di atas meja dapur berbunyi, tanda ada pesan masuk. Semua orang langsung berhenti. Kami menatap layar dengan penuh harap, namun seakan semuanya terhenti sejenak ketika ibu membaca pesan itu dengan suara pelan. "Dari sekolah."

Aku berdiri, jantungku hampir meledak. Ayah ikut mendekat, meskipun tubuhnya masih lemah dan terbatas geraknya. Ibu membuka email dengan tangan yang sedikit gemetar. "Ini... ini pengumumannya, Bib."

"Apakah..." Aku menelan ludah, menunggu detik-detik yang terasa seperti seumur hidup ini.

Ibu membaca perlahan, kata demi kata, dan saat itu juga, waktu terasa terhenti. "Selamat, Habib. Kamu diterima untuk tahap selanjutnya. Kamu lulus, dengan peringkat... lima terakhir."

Mata ibu berkaca-kaca. Ayah pun mengangkat wajahnya, meskipun kelelahan masih jelas terlihat di wajahnya. Kami hanya terdiam beberapa detik, mencoba mencerna semua ini. Lima terakhir? Itu artinya ada seratus lima orang yang berhasil lolos dan aku berada di urutan terakhir dari mereka. Tapi meskipun demikian, aku merasa seperti mendapat angin segar yang luar biasa.

Aku mengangguk, berusaha tersenyum, meskipun ada perasaan campur aduk di hatiku. "Aku lulus, Yah. Aku lulus."

Ayah yang duduk di kursi roda mengangguk pelan, matanya tetap tajam dan penuh harap. "Bagus, Bib. Itu awal yang baik. Kita masih punya perjalanan panjang."

Ibu memelukku, lalu melirik ayah yang tersenyum tipis. Aku merasa dunia ini tidak seburuk yang aku kira. Tentu saja, ini baru permulaan. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Tapi aku merasa seolah aku sudah berada di titik yang sangat berharga. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi untuk pertama kalinya, aku merasa sedikit lebih dekat dengan impianku.



















Bab 15

Kami kembali datang ke sekolah untuk mengikuti tes fisik. Aku tahu ini akan menjadi tantangan terbesar yang pernah kualami. Bukan hanya karena fisikku yang jauh dari ideal, tapi juga karena segala ketakutan dan kecemasan yang menguasai diri. Tes fisik ini bukan hanya soal seberapa kuat tubuhku, tetapi juga soal seberapa jauh aku bisa mengatasi rasa malu, rasa takut, dan rasa tidak percayaku pada diri sendiri.

Aku dan ayah sampai di SMA Cendekia lebih awal. Ayah duduk di kursi roda, masih dalam masa pemulihan, tapi dia tampak lebih semangat daripada sebelumnya. Ibuku menggendong tas berisi perlengkapan tes fisik yang harus dibawa. Adikku, yang terus mendukungku dengan senyuman, terlihat lebih percaya diri daripada aku.

Begitu memasuki area sekolah, aku langsung merasa canggung. Meskipun aku sudah berusaha mempersiapkan diri, rasanya tetap tidak ada yang bisa mengurangi kegelisahan ini. Aku hanya ingin berada di tempat ini secepat mungkin, menyelesaikan tes fisik, dan kembali pulang.

Namun, saat aku melangkah lebih jauh, aku bertemu dengan orang pertama yang aku kenal di sini. Namanya Zakhruf. Dia tampaknya lebih muda dariku, dengan tubuh pendek dariku besar dan wajah yang imut. Sebenarnya, aku sedikit terkejut. Aku tidak pernah berpikir ada orang seperti ini di sekolah ini, terutama dengan fisik yang bisa dibilang sedikit... menakutkan.

"Aku Zakhruf," katanya sambil tersenyum, meskipun terlihat sedikit ragu-ragu, mungkin karena melihat penampilanku yang jauh dari sempurna.

"Habib," jawabku, mencoba tersenyum meski dalam hati masih terasa was-was. Aku memang tidak mengenalnya, tapi rasanya agak lega bisa berkenalan dengan seseorang yang tidak menilai aku langsung berdasarkan fisikku.

Hari tes fisik dimulai, dan aku bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungku. Ada berbagai macam latihan, tapi aku tahu satu hal: lari adalah yang paling menakutkan bagiku. Aku sudah lama sekali tidak berlari. Tubuhku yang berat ini terasa sangat tidak mendukung untuk aktivitas fisik yang satu itu. Tapi aku harus mencoba.

Saat giliran lari 2,4 kilometer tiba, aku merasa seluruh dunia seakan menghilang. Hanya ada suara detak jantungku yang keras, napasku yang terengah-engah, dan pikiranku yang terus bertanya-tanya, "Kenapa aku harus melakukan ini?"

Aku mulai berlari, dan setelah 500 meter, tubuhku sudah terasa sangat berat. Kaki-kakiku bergetar, napasku sesak, dan perutku mulai mual. Tidak tahan, akhirnya aku berhenti, membungkuk dan... muntah.

Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku merasa sangat malu, tubuhku seolah mengkhianatiku. Orang-orang di sekitar mulai menatapku, beberapa terkejut, beberapa lainnya tertawa, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin keluar dari sini, ingin lari dari kenyataan bahwa aku gagal.

Namun, tiba-tiba, Zakhruf yang tadinya lebih dulu lari, kembali menghampiriku.

"Gak apa-apa, Bib," katanya sambil mengusap punggungku. "Kamu sudah coba. Itu yang paling penting."

Aku mengangkat wajah, sedikit terkejut. Meskipun dia lebih kuat dariku, dia tidak mengejek atau merendahkanku. Justru, dia memberiku semangat. Aku mencoba bangkit, meskipun rasanya tubuhku masih ingin ambruk.

"Terima kasih, Zakhruf," kataku dengan suara yang hampir tenggelam oleh rasa malu.

Zakhruf mengangguk, tersenyum. "Masih ada kesempatan, kamu bisa coba lagi nanti."

Aku hanya bisa mengangguk, meskipun aku tahu, aku sudah kalah di tes lari itu. Tapi sesuatu dalam diriku mulai berubah. Ya, mungkin aku tidak bisa berlari sejauh orang lain, mungkin aku tidak bisa melakukan semua yang diminta dalam tes ini, tapi aku sudah mencoba. Aku sudah berani melakukan sesuatu yang selalu kuhindari selama ini: berusaha.

Setelah itu, meskipun tubuhku terasa sangat lelah, aku berusaha menyelesaikan tes lainnya. Push-up, sit-up, dan tes kekuatan lainnya. Aku tidak sempurna, tapi aku melakukannya.

Hari itu, meskipun aku tidak bisa berlari sejauh yang diharapkan, aku merasa lebih baik. Aku merasa seolah-olah aku telah melewati sesuatu yang sangat besar, dan aku tahu, meskipun hasil tes fisik ini tidak sesuai harapanku, aku tetap melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan. Dan itu adalah kemenangan bagiku.














Epilog

Malam itu, hanya ada aku dan Bunda di ruang tamu. Lampu temaram menyinari ruangan dengan warna kekuningan, menciptakan bayangan samar di dinding. Ayah sudah tertidur, perlu banyak istirahat karena besok pagi harus mengantarku ke asrama.

Aku duduk bersila di lantai, bersandar pada sofa tempat Bunda duduk. Tangannya mengelus rambutku pelan, membuatku merasa seperti anak kecil lagi. Tapi justru itulah yang membuatku semakin takut.

Takut kalau setelah ini Bunda tak akan melihatku dengan cara yang sama.

Aku menunduk, jemariku saling menggenggam erat. Tenggorokanku terasa kering. Aku harus mengatakannya. Aku harus jujur sebelum pergi.

“Bunda…” suaraku terdengar begitu kecil.

“Hm?” Bunda masih mengelus rambutku, lembut seperti biasa.

Aku menelan ludah, lalu menarik napas panjang. “Bunda, ada sesuatu yang selama ini aku sembunyikan.”

Tangan Bunda berhenti mengelus. Aku bisa merasakan tatapannya yang mulai serius.

Aku mengepalkan tangan, menggigit bibir, lalu mengatakannya.

“Bunda tahu kan… selama ini aku anak yang malas?”

Bunda diam, tapi aku tahu dia mendengarkan.

Aku menghela napas berat. “Tapi aku bukan cuma malas, Bun. Aku… aku bajingan.”

Kata-kata itu terasa seperti duri yang kukeluarkan dari tenggorokanku sendiri.

“Aku nggak pernah sholat.” Suaraku bergetar. “Aku selalu bohong ke Ayah, ke Bunda. Aku mencuri uang di rumah… sering. Aku habiskan buat hal-hal nggak jelas. Aku… aku nggak pernah serius belajar. Aku cuma peduli sama diriku sendiri. Aku…”

Aku mulai sesenggukan, tapi aku memaksa diriku untuk terus berbicara.

“Aku selalu pura-pura nggak peduli sama semuanya. Aku pikir hidup cuma soal senang-senang. Aku pikir nggak ada yang benar-benar sayang sama aku. Aku pikir… semua orang pakai topeng, Bun. Aku pikir Ayah baik cuma karena dia harus. Aku pikir Bunda baik cuma karena itu tugas Bunda. Aku pikir…” Suaraku pecah. “Aku pikir nggak ada orang yang benar-benar peduli sama aku.”

Aku mengusap wajahku dengan kasar, berusaha menghapus air mata yang terus jatuh.

“Tapi waktu Ayah kecelakaan… aku sadar, Bun.” Aku menatap lantai, tak berani menatap wajah Bunda. “Aku sadar kalau aku ini sampah. Aku sadar kalau aku nggak punya apa-apa selain orang-orang yang sebenarnya selalu sayang sama aku.”

Aku tersenyum miris, meski air mataku masih mengalir. “Tapi aku udah keburu jadi pecundang, Bun. Aku bahkan nggak tahu gimana caranya berubah.”

Sunyi.

Aku menarik napas, mencoba menahan getaran di dadaku. “Makanya aku masuk sekolah ini, Bun. Aku nggak mau jadi pecundang lagi. Aku mau berubah. Aku mau jadi orang yang Bunda bisa banggakan.”

Akhirnya aku mengangkat wajah, menatap Bunda. Aku menunggu reaksinya—kemarahan, kekecewaan, apapun. Tapi yang kulihat justru air mata yang mengalir di pipinya.

Lalu, sebelum aku sempat mengatakan apa pun, tubuh Bunda tiba-tiba melemas.

“BUNDA!”

Aku langsung meraih tubuhnya, panik. Nafasnya masih ada, tapi wajahnya pucat. Aku mengguncangnya, suaraku tercekat di tenggorokan.

“Bunda, maaf! Aku nggak bermaksud—Bunda, bangun!”

Aku bisa merasakan tubuhku sendiri gemetar. Aku terlalu bodoh. Seharusnya aku nggak bilang malam ini. Seharusnya aku simpan saja semuanya sendiri.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Bunda mengerjapkan matanya pelan. Aku langsung memeluknya erat, ketakutan menyelimuti seluruh tubuhku.

“Maaf, Bun… maaf…”

Bunda terisak, tapi tangannya mengusap punggungku dengan lemah. “Kamu anak Bunda… selalu…” bisiknya pelan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku menangis di pelukan Bunda.

Bukan karena takut, bukan karena sakit. Tapi karena aku sadar… betapa berharganya kasih sayang yang selama ini aku abaikan.

***

Waktu berlalu begitu cepat. Dari kelas 10 hingga sekarang, aku sudah berada di kelas 12, semester terakhir. Tak terasa, tahun-tahun yang penuh dengan perjuangan dan tantangan itu sudah mulai berakhir. Satu-satunya yang membuatku sadar betapa jauh perjalanan ini adalah perubahan yang terjadi pada diriku—baik fisik, mental, maupun emosional.

Aku tak lagi seperti Habib yang dulu. Berat badanku kini 65 kilogram, jauh berkurang dibandingkan dengan 105 kilogram di masa lalu. Rasanya ringan, seperti ada beban yang terlepas, meskipun masih ada perjuangan yang terus berlanjut. Sekolah ini, walaupun penuh dengan tekanan, memberiku kesempatan untuk berkembang—untuk memulai sesuatu yang baru, jauh dari bayang-bayang masa lalu.

Namun, perjalanan ini tidak hanya milikku sendiri. Ada satu momen yang akan selalu terpatri dalam ingatanku.

Hari itu, setelah selesai ujian semester 1 kelas 12, aku pulang lebih awal dari biasanya. Aku sudah menyiapkan diri dengan perasaan campur aduk—tak sabar bertemu ayah dan ibu setelah beberapa bulan. Perjalanan jauh ini terasa lebih berat, apalagi setelah aku melihat sekilas kemajuan yang telah kuperoleh.

Begitu tiba di rumah, aku melihat ayah sedang duduk di kursi depan rumah. Kulihat dia tak bisa menahan air mata yang mengalir begitu saja.

"Yah..." Aku memanggilnya dengan suara yang agak tercekat.

Ayah menatapku, matanya berkaca-kaca. "Bib, kamu... kamu sudah berubah banyak. Ayah nggak bisa bayangin betapa kerasnya kamu berjuang selama ini."

Hatiku seperti dipukul keras. Aku tahu ayah merasa bangga, tapi juga merasa ada rasa yang lebih dalam. Rasa yang tak mudah terungkapkan, rasa yang penuh dengan kerinduan, harapan, dan pengorbanan.

Aku duduk di sampingnya, tak tahu harus berkata apa. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah memeluknya dengan erat, seperti waktu itu, ketika dia menenangkan aku saat jatuh.

"Iya Yah... Aku berhasil. Aku akan terus berusaha," kataku dengan penuh keyakinan. Meskipun banyak rintangan, aku tahu aku akan terus berjuang, karena aku bukan lagi Habib yang dulu.

Ayah mengusap air matanya, dan tersenyum. "Aku tahu. Kamu sudah jadi anak yang luar biasa, Bib. Semuanya nggak sia-sia."

Aku menatapnya, merasa seberat apapun perjuangan ini, perasaan ini—rasa bangga dan haru—membuatku merasa lebih kuat dari sebelumnya. Di hadapan ayahku, aku ingin menjadi yang terbaik, bukan hanya untuk diriku, tapi untuknya juga.

Tapi momen itu... tak akan pernah terlupakan. Momen di mana aku melihat ayah menangis bangga, karena dia tahu aku sudah mengatasi segala kesulitan, mengatasi diriku yang dulu.

Sampai sekarang, aku masih merasa tak percaya betapa jauh aku telah berkembang. Masih banyak yang harus aku lakukan, banyak yang harus aku pelajari. Namun, ada satu hal yang pasti: aku tak akan pernah berhenti berjuang.

Untuk ayah, ibu, dan untuk diriku sendiri.

***

Hari-hari terakhir di kelas 12 terasa penuh dengan perasaan campur aduk. Ujian kelulusan sudah di depan mata, dan aku tak bisa menahan diri untuk sedikit merenung. Waktu begitu cepat berlalu. Begitu banyak hal yang telah berubah, begitu banyak tantangan yang telah aku hadapi, dan begitu banyak pelajaran yang aku dapatkan.

Aku duduk di meja belajarku, menatap lembaran-lembaran catatan ujian yang berserakan. Tapi mataku justru tertuju pada sesuatu yang lebih sederhana, lebih personal—di sudut meja, sebuah buku kecil dengan sampul yang agak lusuh. Itu adalah diary yang kutulis sejak kelas 10, saat aku memulai perjalanan panjang ini.

Tangan kanan kuambil diary itu, membuka halaman demi halaman yang pernah kutulis dengan penuh keraguan. Di sana, aku melihat diriku yang dulu. Murid terbodoh di kelas, murid yang tak punya teman, murid yang bahkan tak punya kepercayaan diri. Aku masih ingat betul bagaimana rasanya berada di posisi terburuk, merasa terasingkan, merasa tak pernah ada tempat untukku. Bahkan tubuhku, yang begitu gemuk dan tak sehat, seakan menunjukkan betapa buruknya aku di mata orang lain dan, yang lebih parah, di mataku sendiri.

Tapi lihatlah sekarang. Aku tertawa pelan saat merenunginya. Kini, aku menjadi juara kelas, walau bukan juara pertama, setidaknya di antara yang terbaik. Badanku memang masih jauh dari sempurna, tapi setidaknya aku merasa lebih sehat. Berat badanku sudah turun jadi 75 kilogram, tubuhku jauh lebih bugar, meski tidak berotot seperti orang lain. Tapi aku merasa bangga, bangga dengan diri sendiri yang berhasil keluar dari zona nyaman dan melakukan sesuatu yang lebih baik.

Aku menatap cermin di depan meja. Bayangan seorang Habib yang dulu dan sekarang terlihat sangat berbeda. Aku yang dulu tak percaya diri, sekarang berdiri tegak, merasa lebih kuat. Aku bahkan menjadi ketua beberapa acara besar yang diadakan oleh sekolah. Orang-orang yang dulu menganggapku sebagai orang biasa, kini menghargai keberadaanku, terutama teman-teman dari kelas IPS. Mereka kini seperti keluarga bagiku. Mereka adalah orang-orang yang menemani perjalanan ini, memberi dukungan di saat-saat aku hampir menyerah.

Mataku mulai berair. Aku terdiam sejenak. Aku tak bisa menahan perasaan ini. Perasaan bangga, haru, dan terima kasih pada diriku sendiri, dan pada semua orang yang telah mendukungku. Ayah, ibu, teman-temanku, dan guru-guruku. Semua yang pernah aku temui dalam perjalanan ini telah membantu membentuk diriku yang sekarang.

Aku menutup diary itu, meletakkannya dengan hati-hati di atas meja. Mataku menatap ke depan, berfokus pada ujian kelulusan yang akan segera datang. Rasanya seperti sebuah puncak, sebuah titik akhir dari perjalanan panjang ini, tapi aku tahu ini bukan akhir—ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar lagi.

Aku berharap semua kesulitan yang aku hadapi, setiap air mata, setiap peluh yang jatuh, akhirnya menemukan jalan keluar terbaik. Aku berharap perjuangan ini tidak sia-sia. Semua yang aku lakukan untuk ayah, untuk ibu, dan untuk diriku sendiri, semoga berbuah manis.

Aku mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tapi aku tahu satu hal: aku sudah berjuang sekuat yang aku bisa. Dan itu sudah cukup.

Sekarang, saat aku mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan, aku merasa siap. Aku siap menghadapi dunia luar dengan penuh keyakinan, siap melangkah lebih jauh dari yang pernah kubayangkan dulu.

Karena aku, Habib, sudah menjadi orang yang jauh lebih baik daripada yang aku pernah pikirkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Obsessed